Apa yang Harus Dibuktikan Ketika Produk Mengklaim ‘48-Hour Hydration’?

Apa yang Harus Dibuktikan Ketika Produk Mengklaim ‘48-Hour Hydration’?

Angka 48 jam pada klaim hidrasi terdengar sangat spesifik. Karena itu, pembuktiannya juga harus spesifik. Produsen perlu memiliki data yang menunjukkan bahwa efek hidrasi memang masih terukur hingga waktu yang dijanjikan, bukan sekadar sesaat setelah produk digunakan.

Klaim berbasis angka memiliki daya tarik tersendiri dalam pemasaran kosmetik. Dibandingkan kalimat seperti "membantu melembapkan kulit", pernyataan “48-hour hydration” terdengar lebih konkret. Konsumen memperoleh gambaran bahwa manfaat produk tidak hanya terjadi setelah pemakaian, tetapi dapat bertahan hingga dua hari.

Justru karena terdengar lebih konkret, tuntutan pembuktiannya menjadi lebih besar. Angka 48 bukan sekadar pilihan bahasa pemasaran. Ia merupakan bagian dari klaim performa yang seharusnya memiliki dasar pengujian yang relevan.

Persoalannya tidak berhenti pada apakah kulit menjadi lebih terhidrasi setelah produk digunakan. Laboratorium juga perlu menjawab pertanyaan yang lebih spesifik: dibandingkan dengan kondisi apa, diukur menggunakan metode apa, pada siapa pengujian dilakukan, kapan pengukuran dilakukan, dan apakah efek tersebut benar-benar masih dapat ditunjukkan pada jam ke-48?

Inilah yang membedakan klaim hidrasi umum dengan klaim hidrasi yang menyertakan durasi tertentu.

Baca Juga: Mengapa Klaim ‘Dermatologist Recommended’ Perlu Dibedakan dengan ‘Dermatologically Tested’?

Angka 48 Jam Harus Terlihat dalam Desain Pengujiannya

Hidrasi kulit dapat dievaluasi menggunakan metode instrumental. Salah satu instrumen yang banyak digunakan dalam penelitian kosmetik adalah Corneometer, yang mengestimasi tingkat hidrasi stratum corneum melalui perubahan sifat dielektrik permukaan kulit.

Sebelum produk diaplikasikan, peneliti biasanya membutuhkan nilai awal atau baseline. Produk kemudian digunakan sesuai protokol penelitian, lalu hidrasi kulit diukur kembali pada titik waktu yang telah ditentukan. Untuk mendukung klaim 48-hour hydration, desain penelitian perlu memiliki data yang relevan sampai dengan titik waktu 48 jam.

Di sinilah pemilihan time point menjadi sangat penting. Data yang menunjukkan peningkatan hidrasi pada satu jam, delapan jam, atau 24 jam setelah aplikasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa manfaat tersebut masih berlangsung pada jam ke-48.

Kondisi pengujian juga perlu dikendalikan. Suhu dan kelembapan ruangan dapat memengaruhi kondisi permukaan kulit. Area tubuh yang diuji, jumlah produk yang diaplikasikan, periode aklimatisasi sebelum pengukuran, hingga aktivitas yang diperbolehkan selama penelitian dapat memengaruhi hasil.

Pertanyaan penting lainnya adalah apa yang terjadi selama 48 jam tersebut. Apakah produk hanya diaplikasikan satu kali pada awal penelitian? Apakah subjek diperbolehkan mengaplikasikan kembali produk? Apakah area pengujian boleh dicuci atau terkena produk lain?

Perbedaan tersebut sangat menentukan arti klaim. Klaim bahwa "satu kali aplikasi memberikan hidrasi hingga 48 jam" jauh lebih spesifik dibandingkan klaim hidrasi yang diperoleh melalui penggunaan berulang selama periode tersebut.

Jumlah dan karakteristik partisipan juga harus sesuai dengan tujuan penelitian. Data dari kelompok kecil dengan kondisi kulit tertentu tidak boleh secara sembarangan digeneralisasi kepada seluruh populasi. Karena itu, protokol penelitian, kriteria subjek, metode statistik, dan interpretasi hasil menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembuktian klaim.

Prinsip pembuktian semacam ini sejalan dengan Common Criteria for Cosmetic Claims di Uni Eropa, yang mensyaratkan klaim kosmetik didukung oleh bukti yang memadai dan dapat diverifikasi. Prinsip serupa juga penting dalam komunikasi kosmetik di kawasan ASEAN: klaim tidak boleh memberikan gambaran mengenai performa yang melampaui bukti yang dimiliki.

Baca Juga: Kapan Sebuah Produk Boleh Menggunakan Klaim ‘Suitable for Sensitive Skin’?

‘Terukur hingga 48 Jam’ Tidak Sama dengan ‘Kulit Terhidrasi Sempurna Selama 48 Jam’

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana hasil penelitian diterjemahkan menjadi bahasa pada kemasan dan iklan.

Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa parameter hidrasi kulit pada jam ke-48 masih menunjukkan peningkatan yang bermakna dibandingkan baseline. Hasil tersebut dapat menjadi dasar penting bagi klaim durasi. Namun, data itu tidak otomatis berarti tingkat hidrasi tetap sama tingginya selama seluruh periode 48 jam.

Efeknya bisa saja paling tinggi beberapa jam setelah aplikasi, kemudian menurun secara bertahap tetapi masih dapat terukur pada jam ke-48. Karena itu, frasa yang digunakan dalam komunikasi produk perlu mencerminkan apa yang benar-benar ditemukan dalam penelitian.

Hal yang sama berlaku pada persentase. Jika suatu merek mengatakan "meningkatkan hidrasi hingga 50 persen selama 48 jam", misalnya, perusahaan perlu membuktikan bukan hanya keberadaan efek pada jam ke-48, tetapi juga apakah angka 50 persen tersebut memang relevan dengan durasi yang diklaim. Menggabungkan dua hasil berbeda menjadi satu kalimat dapat menciptakan kesan performa yang lebih besar daripada data sebenarnya.

Selain pengujian instrumental, consumer perception study dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana pengguna merasakan kelembapan produk. Namun, pernyataan seperti "90 persen konsumen merasa kulit lebih lembap" berbeda secara ilmiah dari hasil pengukuran instrumental yang menunjukkan peningkatan hidrasi stratum corneum.

Keduanya dapat menjadi data yang berguna, tetapi menjawab pertanyaan yang berbeda. Karena itu, klaim tidak seharusnya mengubah data persepsi konsumen menjadi seolah-olah merupakan hasil pengukuran fisiologis kulit.

Pembuktian juga idealnya dilakukan terhadap produk akhir yang benar-benar dipasarkan. Memiliki literatur yang menunjukkan bahwa glycerin, hyaluronic acid, atau bahan humektan tertentu mampu meningkatkan hidrasi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah formula dapat memberikan hidrasi selama 48 jam. Konsentrasi bahan, kombinasi humektan dan oklusif, sistem emulsi, serta keseluruhan karakter formula akan menentukan performa produk akhir.

Bagi industri, klaim berbasis durasi membutuhkan kerja sama erat antara tim R&D, laboratorium pengujian, regulatory affairs, dan pemasaran. Tim pemasaran mungkin menginginkan pesan yang sederhana dan kuat, tetapi kalimat tersebut harus tetap berada dalam batas yang dapat dijelaskan oleh data.

Bagi konsumen, angka 48 jam sebaiknya tidak dibaca sebagai janji bahwa kondisi kulit akan sama persis selama dua hari penuh. Angka itu semestinya menunjukkan bahwa produsen memiliki pembuktian yang relevan terhadap efek hidrasi sampai titik waktu tersebut sesuai kondisi pengujian.

Semakin spesifik sebuah klaim, semakin sedikit ruang untuk asumsi. Jika sebuah produk berani menyebut 48 jam, maka angka 48 itu harus dapat ditemukan kembali dalam desain penelitian, data pengukuran, analisis, dan kesimpulannya. Di dunia kosmetik berbasis sains, angka pada kemasan bukan sekadar cara membuat klaim terdengar meyakinkan. Angka tersebut adalah sesuatu yang harus dapat dibuktikan. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.