Formula kosmetik yang tampak stabil pada suhu ruang belum tentu tahan terhadap perubahan suhu ekstrem. Pengujian freeze–thaw membantu mengidentifikasi kelemahan sistem formula sebelum produk dipasarkan.
Krim, losion, dan serum dapat mengalami perubahan karakteristik selama penyimpanan maupun distribusi. Paparan suhu rendah dan tinggi berpotensi memengaruhi struktur emulsi, viskositas, hingga homogenitas produk. Perubahan tersebut tidak selalu terlihat ketika pengujian hanya dilakukan pada satu kondisi suhu.
Untuk mengevaluasi risiko itu, laboratorium menggunakan freeze–thaw test, yaitu pengujian melalui siklus pembekuan dan pencairan berulang. Metode ini memberikan tekanan fisik pada sistem formula agar kecenderungan ketidakstabilan dapat teridentifikasi lebih awal. Hasilnya membantu formulator memahami ketahanan produk terhadap fluktuasi suhu.
Baca Juga: Oksidasi Minyak Ikan dalam Kosmetik, Mengapa TOTOX, PV, dan p-AnV Penting?
Pada produk emulsi, perubahan suhu dapat memengaruhi keseimbangan antara fase minyak, fase air, dan sistem emulsifier. Ketika sebagian fase air membeku, pembentukan kristal es dapat mengubah distribusi komponen dan mendekatkan droplet emulsi. Setelah pencairan, struktur semula belum tentu pulih sepenuhnya sehingga muncul risiko pemisahan fase.
Perubahan tersebut dapat terlihat melalui terbentuknya lapisan minyak, perubahan kekentalan, endapan, atau tekstur yang tidak homogen. Pada sediaan tertentu, pengujian juga dapat menunjukkan kecenderungan kristalisasi dan kekeruhan. Karena itu, evaluasi perlu disesuaikan dengan jenis formula serta karakteristik produk yang ingin dipertahankan.
Dokumen ISO/TR 18811:2018, tentang pedoman pengujian stabilitas kosmetik, memasukkan siklus perubahan suhu sebagai salah satu pendekatan evaluasi. Pengujian pembekuan dan pencairan dapat digunakan untuk mengamati stabilitas emulsi, kecenderungan kristalisasi, serta apakah perubahan yang terjadi bersifat reversibel. Dokumen tersebut tidak menetapkan satu protokol wajib yang berlaku bagi seluruh jenis kosmetik.
Sebagai ilustrasi, suatu protokol dapat menggunakan penyimpanan pada suhu sekitar minus 5 derajat Celsius, kemudian memindahkan sampel ke suhu 25 derajat Celsius selama periode tertentu. Siklus tersebut diulang sesuai rancangan pengujian. Pemilihan suhu, durasi, jumlah siklus, dan kriteria penerimaan harus memiliki justifikasi berdasarkan karakteristik produk.
Baca Juga: Mengapa Hasil Pengukuran Viskositas Bisa Berbeda Meski Sampelnya Sama?
Ahli formulasi kosmetik Perry Romanowski, melalui pembahasan teknis di Chemists Corner, menjelaskan bahwa pengujian freeze–thaw membantu mengungkap ketidakstabilan yang mungkin tidak terdeteksi melalui penyimpanan biasa. Pengujian ini relevan karena produk dapat mengalami perubahan suhu selama pengiriman dan penyimpanan. Perspektif tersebut menempatkan pengujian sebagai sarana memahami risiko, bukan sekadar tahapan administratif.
Dalam praktik formulasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. juga memiliki bidang keahlian yang relevan dengan persoalan stabilitas dan pengembangan produk kosmetik. Dari sudut pandang ilmu formulasi, perubahan viskositas atau pemisahan fase perlu ditelusuri melalui komposisi emulsifier, karakteristik bahan, serta proses pembuatan. Analisis tersebut merupakan penjelasan teknis, bukan kutipan wawancara langsung dengan apt. Cahya.
Hasil freeze–thaw test perlu dibandingkan dengan kondisi awal dan sampel pembanding. Parameter yang diamati dapat mencakup penampilan, warna, aroma, pH, viskositas, homogenitas, dan pemisahan fase sesuai jenis sediaan. Pengamatan sebaiknya dilakukan menggunakan metode serta batas penerimaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Meski demikian, keberhasilan melewati sejumlah siklus tidak otomatis membuktikan bahwa produk stabil sepanjang masa simpannya. Pengujian tersebut terutama memberikan informasi mengenai ketahanan terhadap tekanan suhu tertentu. Evaluasi stabilitas jangka panjang, stabilitas dipercepat, kompatibilitas kemasan, dan pengujian lain tetap diperlukan sesuai risiko produk.
Sebaliknya, kegagalan pada kondisi ekstrem juga harus ditafsirkan secara proporsional. Formulator perlu menilai apakah kondisi pengujian relevan dengan kemungkinan paparan selama distribusi dan penggunaan. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki komposisi, sistem emulsifier, atau proses produksi sebelum pengembangan dilanjutkan.
Nilai utama freeze–thaw test terletak pada kemampuannya mengungkap kerentanan formula sebelum masalah muncul di tangan konsumen. Pengujian yang dirancang dan ditafsirkan dengan tepat membantu memastikan bahwa kestabilan kosmetik tidak hanya dinilai dari penampilan awal, tetapi juga dari ketahanannya menghadapi perubahan lingkungan. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.