Dua istilah ini sering muncul berdampingan pada kemasan kosmetik dan kerap dianggap memiliki arti yang sama. Padahal, dermatologist recommended dan dermatologically tested menggambarkan dua hal yang sangat berbeda, baik dari sisi ilmiah maupun cara pembuktiannya.
Seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keamanan kosmetik, berbagai istilah yang berkaitan dengan dokter kulit semakin sering digunakan dalam komunikasi produk. Kehadiran istilah tersebut bertujuan memberikan keyakinan bahwa produk telah melalui proses evaluasi tertentu atau memiliki hubungan dengan praktik dermatologi.
Namun, dalam kenyataannya, masih banyak konsumen yang belum membedakan makna kedua istilah tersebut. Tidak sedikit yang menganggap bahwa produk yang bertuliskan dermatologist recommended pasti telah diuji secara klinis oleh dokter kulit. Sebaliknya, ada pula yang mengira dermatologically tested berarti produk tersebut direkomendasikan oleh para dermatolog.
Padahal, kedua klaim tersebut memiliki dasar yang berbeda. Memahami perbedaannya penting agar konsumen tidak salah menafsirkan informasi yang disampaikan pada kemasan, sekaligus mendorong industri menggunakan klaim secara lebih bertanggung jawab.
Regulasi kosmetik modern menempatkan setiap klaim sebagai bentuk komunikasi yang harus dapat dibuktikan. Oleh sebab itu, pemilihan istilah tidak boleh dilakukan hanya karena alasan pemasaran.
Baca Juga: Kapan Sebuah Produk Boleh Menggunakan Klaim ‘Suitable for Sensitive Skin’?
Istilah dermatologically tested pada dasarnya menunjukkan bahwa produk telah melalui suatu bentuk pengujian yang melibatkan pengawasan atau evaluasi oleh dokter spesialis kulit atau tenaga profesional yang kompeten di bidang dermatologi.
Pengujian tersebut dapat berupa patch test, Human Repeat Insult Patch Test [HRIPT], maupun bentuk evaluasi dermatologis lainnya, tergantung tujuan penelitian dan desain uji yang digunakan. Melalui pengujian tersebut, peneliti mengamati respons kulit para partisipan terhadap produk dalam kondisi yang telah ditentukan sebelumnya.
Yang perlu dipahami, klaim dermatologically tested tidak secara otomatis berarti produk bebas iritasi, bebas alergi, atau pasti cocok untuk semua orang. Klaim ini hanya menyatakan bahwa produk telah menjalani proses pengujian dermatologis sesuai metode yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Menurut Commission Regulation [EU] No. 655/2013 mengenai Common Criteria for Cosmetic Claims, setiap klaim kosmetik harus memiliki bukti yang memadai, relevan, dan tidak menyesatkan. Artinya, apabila perusahaan menggunakan istilah dermatologically tested, mereka harus memiliki dokumentasi yang menunjukkan bahwa pengujian tersebut benar-benar telah dilakukan.
Leslie Baumann, MD, dalam Cosmetic Dermatology: Principles and Practice menjelaskan bahwa hasil pengujian dermatologis selalu harus diinterpretasikan sesuai desain penelitian yang digunakan. Sebuah hasil uji menunjukkan karakteristik produk pada kelompok subjek tertentu dan tidak boleh diperluas menjadi klaim yang melampaui data yang dimiliki.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt. menjelaskan bahwa dalam pengembangan kosmetik, setiap klaim berbasis pengujian harus memiliki hubungan langsung dengan data yang dihasilkan. Penggunaan istilah ilmiah tanpa dukungan bukti yang sesuai dapat menimbulkan persepsi yang tidak tepat di kalangan konsumen.
Baca Juga: Mengapa Istilah Microbiome Friendly Tidak Boleh Digunakan Sembarangan?
Berbeda dengan dermatologically tested, istilah dermatologist recommended mengandung makna bahwa produk tersebut direkomendasikan oleh dokter spesialis kulit. Klaim seperti ini jauh lebih sensitif karena berkaitan dengan pendapat profesional, bukan sekadar pelaksanaan suatu pengujian.
Dalam praktiknya, perusahaan harus dapat menjelaskan dasar penggunaan klaim tersebut. Apakah rekomendasi berasal dari survei terhadap sejumlah dokter kulit, hasil evaluasi ilmiah oleh panel dermatolog, atau bentuk pembuktian lain yang dapat diverifikasi. Tanpa dasar yang jelas, penggunaan istilah recommended berpotensi menimbulkan kesan bahwa terdapat dukungan profesi yang sebenarnya belum tentu ada.
Inilah sebabnya banyak regulator dan organisasi profesi mendorong agar klaim yang mengandung unsur rekomendasi profesional digunakan secara sangat hati-hati. Konsumen dapat menganggap kata ‘recommended’ sebagai bentuk persetujuan ilmiah yang luas, padahal ruang lingkup dukungannya mungkin jauh lebih terbatas.
Dalam kerangka ASEAN Cosmetic Directive, seluruh informasi pada kemasan harus bersifat jujur dan tidak menyesatkan. Prinsip yang sama juga berlaku pada berbagai pedoman internasional mengenai klaim kosmetik. Perusahaan harus mampu menunjukkan dasar objektif terhadap setiap pernyataan yang berkaitan dengan manfaat maupun dukungan profesional.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa kekuatan sebuah klaim tidak ditentukan oleh istilah yang terdengar paling meyakinkan, melainkan oleh kualitas bukti yang mendukungnya. Apabila sebuah produk menggunakan klaim yang melibatkan profesi tertentu, perusahaan harus mampu menjelaskan bagaimana klaim tersebut dibangun dan didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi konsumen, memahami perbedaan kedua istilah ini membantu membaca informasi pada kemasan secara lebih kritis. Produk yang bertuliskan dermatologically tested menunjukkan bahwa telah ada proses evaluasi dermatologis, sedangkan dermatologist recommended berbicara tentang adanya rekomendasi dari profesional di bidang dermatologi yang juga harus memiliki dasar yang jelas. Keduanya bukan istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja.
Dalam dunia kosmetik, kepercayaan tidak dibangun oleh penggunaan istilah yang terdengar ilmiah, tetapi oleh transparansi mengenai apa yang benar-benar telah dilakukan terhadap produk. Semakin jelas makna sebuah klaim dan semakin kuat bukti yang mendukungnya, semakin besar pula kepercayaan yang dapat dibangun antara industri, regulator, dan konsumen. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.