Bolehkah Hasil Uji Satu Produk Digunakan untuk Mendukung Klaim Produk Lain dalam Satu Seri?

Bolehkah Hasil Uji Satu Produk Digunakan untuk Mendukung Klaim Produk Lain dalam Satu Seri?

Produk dalam satu seri sering memiliki bahan aktif dan klaim serupa. Apakah hasil pengujian satu produk cukup untuk membuktikan manfaat seluruh rangkaian?

Sebuah merek kosmetik meluncurkan rangkaian perawatan kulit yang terdiri atas facial wash, serum, dan pelembap. Ketiganya menggunakan bahan aktif unggulan yang sama serta dipasarkan dengan klaim membantu menjaga kelembapan kulit. Ketika serum telah menjalani pengujian efektivitas, muncul pertanyaan apakah hasilnya dapat digunakan untuk mendukung klaim dua produk lainnya.

Persoalan ini berkaitan dengan praktik claim substantiation, yaitu proses memastikan setiap pernyataan manfaat memiliki bukti ilmiah yang memadai. Kesamaan merek, nama seri, atau bahan aktif tidak otomatis menjadikan hasil pengujian dapat dipertukarkan. Relevansi bukti tetap bergantung pada karakteristik produk dan manfaat yang diklaim.

Baca Juga: Ketika Ingredient Punya Evidence, Apakah Finished Product Boleh Membawa Klaim yang Sama?

Satu Seri Belum Tentu Memiliki Performa yang Sama

Dalam pengembangan kosmetik, produk yang menggunakan bahan aktif identik dapat memiliki karakteristik berbeda. Konsentrasi bahan, sistem pelarut, emulsifier, pH, viskositas, hingga cara penggunaan dapat memengaruhi perilaku formula. Perbedaan tersebut menjadi penting ketika pengujian bertujuan membuktikan efektivitas pada kulit.

Sebagai contoh, serum dan pelembap mungkin sama-sama mengandung bahan yang berkaitan dengan hidrasi. Akan tetapi, keduanya memiliki komposisi dan mekanisme pembentukan lapisan pada kulit yang berbeda. Hasil pengujian peningkatan hidrasi pada serum tidak langsung membuktikan bahwa pelembap menghasilkan peningkatan dengan besaran dan durasi identik.

Prinsip ini sejalan dengan ASEAN Cosmetic Directive yang mengharuskan manfaat kosmetik didukung bukti substansial dan/atau dasar formulasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pedoman tersebut memberi ruang bagi metode pengujian ilmiah yang sesuai, sepanjang pemilihan metodenya memiliki justifikasi. Artinya, bukti perlu dinilai berdasarkan hubungan antara formula, metode pengujian, dan klaim yang disampaikan.

Dalam perspektif formulasi, keahlian apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. relevan untuk memahami persoalan tersebut. Perbedaan sistem formula dapat mengubah stabilitas, penghantaran, dan karakteristik penggunaan bahan aktif. Karena itu, kesamaan komposisi secara umum belum cukup untuk menyimpulkan bahwa dua produk akan menunjukkan performa setara.

Baca Juga: Klaim ‘Microbiome Friendly’, Evidence Seperti Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan?

Kapan Hasil Pengujian Dapat Digunakan Bersama?

Penggunaan data dari produk lain dapat dipertimbangkan melalui pendekatan scientific bridging, yakni penilaian ilmiah terhadap relevansi hasil pengujian antarproduk. Pendekatan ini membutuhkan dokumentasi kesetaraan yang memadai, bukan sekadar pernyataan bahwa produk berasal dari seri yang sama. Semakin besar perbedaan formula dan penggunaan, semakin kuat justifikasi tambahan yang diperlukan.

Penilaian dapat mencakup kesamaan komposisi, konsentrasi bahan aktif, karakteristik fisikokimia, stabilitas, serta kondisi penggunaan. Jenis klaim juga menentukan kebutuhan pembuktiannya. Klaim hidrasi selama periode tertentu, misalnya, membutuhkan bukti yang relevan terhadap durasi dan hasil yang dinyatakan.

Sebagai pembanding internasional, Commission Regulation [EU] No. 655/2013 menegaskan bahwa bukti klaim harus memadai, dapat diverifikasi, serta relevan terhadap produk dan manfaat yang diklaim. Regulasi tersebut juga menempatkan kejujuran penyampaian performa sebagai prinsip penting. Ketentuan Uni Eropa ini menjadi referensi pembanding, bukan pengganti persyaratan regulasi Indonesia.

Situasinya berbeda apabila pengujian dilakukan terhadap rangkaian produk yang digunakan bersamaan. Hasil pengujian tersebut dapat mendukung klaim manfaat penggunaan kombinasi sesuai protokol penelitian. Sebaliknya, hasilnya tidak otomatis membuktikan bahwa masing-masing produk menghasilkan manfaat serupa ketika digunakan sendiri.

Perusahaan karena itu perlu menyimpan dasar ilmiah yang menjelaskan keterkaitan setiap hasil pengujian dengan produk yang membawa klaim. Jika perbedaannya berpotensi memengaruhi performa, pengujian tambahan atau penyesuaian klaim mungkin diperlukan. Keputusan tersebut harus mengikuti evaluasi bukti yang tersedia, bukan kebutuhan menyamakan komunikasi pemasaran.

Hasil uji satu produk dapat menjadi bukti pendukung bagi produk lain apabila relevansinya dapat dibenarkan secara ilmiah. Meski demikian, keberadaan satu seri tidak dengan sendirinya membuktikan kesetaraan efektivitas. Setiap klaim tetap harus mencerminkan manfaat yang benar-benar didukung oleh bukti. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.