Kulit buah, ampas kopi, dan hasil samping pengolahan pangan mulai dilirik sebagai sumber bahan kosmetik. Riset terbaru menunjukkan potensinya sekaligus tantangan penerapannya.
Industri pangan menghasilkan berbagai residu yang masih mengandung senyawa bernilai. Sebagian di antaranya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik melalui pendekatan upcycling, yakni mengolah material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Perkembangan ini dibahas dalam jurnal Antioxidants pada 30 Juli 2026. Peneliti dari University of Bologna meninjau potensi hasil samping pertanian dan pangan sebagai sumber antioksidan untuk perawatan kulit, rambut, dan mulut. Kajian tersebut juga menyoroti tantangan pengembangan bahan menuju penggunaan industri.
Baca Juga: Ketika Laboratorium Kosmetik Mulai Menggunakan Digital Twin, Apa yang Sebenarnya Bisa Disimulasikan?
Hasil samping pengolahan pangan dapat mengandung polifenol, flavonoid, karotenoid, lipid, peptida, dan polisakarida. Senyawa tersebut menarik perhatian karena potensi aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta manfaat lain yang relevan dengan perawatan kulit. Kandungannya bergantung pada sumber bahan dan proses pengolahannya.
Kajian yang dipimpin Alessia Silla dan Maria Cristina Barbalace bersama peneliti lainnya menjelaskan bahwa kulit buah, biji, dan ampas pengolahan pangan merupakan sumber potensial senyawa bioaktif. Penelitian yang mereka tinjau mencakup pengujian laboratorium, model biologis, dan sebagian studi pada manusia. Tingkat pembuktian manfaatnya masih berbeda antarjenis bahan.
Pada September 2026, publikasi lain di Natural Resources for Human Health memperluas pembahasan terhadap kulit jeruk, ampas anggur, residu tomat, dan ampas kopi. Para penulis menyoroti teknologi ekstraksi yang lebih ramah lingkungan sekaligus kendala standardisasi dan keamanan. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian tidak lagi berhenti pada identifikasi kandungan bahan.
Di Indonesia, contoh pengembangan serupa muncul melalui penelitian sacha inchi. Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, menjelaskan dalam tulisan yang diterbitkan pada Mei 2026 bahwa pengembangan komoditas tersebut mencakup pemurnian minyak dan pemanfaatan limbah cangkang menjadi eksfolian alami Bioscrub. Contoh ini memperlihatkan hubungan antara riset bahan alam, pengolahan hasil samping, dan inovasi kosmetik.
Baca Juga: Martha Tilaar dan Perjuangan Membangun Kemandirian Industri Kosmetik Indonesia
Kandungan antioksidan dalam ekstrak tidak otomatis membuktikan manfaatnya ketika diaplikasikan pada kulit. Peneliti perlu mengevaluasi keamanan, stabilitas, konsentrasi efektif, serta kemampuan bahan bekerja dalam formula. Hasil pengujian terhadap senyawa murni juga belum tentu sama dengan hasil pengujian produk akhir.
Persoalan ini berkaitan dengan bidang keahlian apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. dalam formulasi kosmetik. Dari perspektif teknis formulasi, ekstrak hasil upcycling perlu dievaluasi kompatibilitasnya dengan bahan lain, pengaruhnya terhadap warna dan aroma, serta kestabilannya selama penyimpanan. Pembahasan tersebut merupakan analisis redaksi berdasarkan prinsip formulasi, bukan kutipan wawancara langsung.
Prof. Sriwidodo juga menekankan pentingnya karakterisasi, standardisasi, dan stabilisasi bahan alam dalam tulisan terbarunya pada Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa varietas, proses pengolahan, dan penyimpanan dapat memengaruhi komposisi bahan. Prinsip tersebut relevan ketika hasil samping pangan hendak dikembangkan menjadi bahan baku dengan mutu konsisten.
Tantangan berikutnya menyangkut keamanan sumber material. Residu pangan memerlukan pengendalian terhadap kemungkinan cemaran mikrobiologis, residu pestisida, dan kontaminan lain sesuai karakteristiknya. Proses ekstraksi pun harus menghasilkan bahan yang memenuhi spesifikasi penggunaan kosmetik.
Aspek keberlanjutan juga membutuhkan pembuktian. Penggunaan limbah sebagai bahan awal belum otomatis menjadikan proses produksinya lebih ramah lingkungan apabila ekstraksi membutuhkan energi, pelarut, atau pengolahan tambahan yang besar.
Riset upcycling telah berkembang dari eksplorasi senyawa menuju pengembangan bahan kosmetik yang lebih aplikatif. Meski begitu, keberhasilan sesungguhnya bergantung pada kemampuan menghasilkan bahan yang aman, terstandar, stabil, dan terbukti bermanfaat dalam produk akhir. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.