Produk kosmetik tidak hanya diuji ketika baru selesai dibuat. Sebelum sampai ke tangan konsumen, laboratorium juga perlu memastikan bahwa formula tetap stabil ketika terpapar cahaya selama proses distribusi, penyimpanan, hingga penggunaan sehari-hari.
Banyak konsumen mengira cahaya hanya memengaruhi warna kemasan atau tampilan produk. Padahal, bagi seorang formulator, cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling berpotensi mengubah karakter suatu formula. Paparan cahaya yang berlangsung terus-menerus dapat mempercepat oksidasi, menguraikan bahan aktif, mengubah warna, bahkan menurunkan efektivitas produk.
Risiko tersebut tidak selalu terlihat secara langsung. Ada produk yang masih tampak normal secara visual, tetapi kadar bahan aktifnya telah menurun karena mengalami fotodegradasi. Itulah sebabnya pengujian terhadap paparan cahaya menjadi bagian penting dalam evaluasi stabilitas kosmetik.
Menurut ICH Q1B Photostability Testing of New Drug Substances and Products, pengujian fotostabilitas bertujuan mengevaluasi bagaimana suatu produk bereaksi ketika terpapar cahaya dalam kondisi yang telah distandarkan. Meskipun pedoman ini dikembangkan untuk produk farmasi, prinsip ilmiahnya juga banyak diadopsi dalam pengembangan kosmetik yang mengandung bahan aktif sensitif terhadap cahaya.
Baca Juga: Mengapa Warna Produk Bisa Berubah Selama Penyimpanan?
Tidak semua bahan kosmetik memiliki ketahanan yang sama terhadap cahaya. Beberapa bahan aktif diketahui sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet maupun cahaya tampak. Ketika energi cahaya mengenai molekul tertentu, struktur kimianya dapat berubah sehingga aktivitas biologisnya ikut berubah.
Salah satu contoh yang paling sering dibahas adalah retinol. Bahan aktif ini dikenal efektif membantu memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga mudah mengalami degradasi apabila terpapar cahaya dan udara dalam waktu lama. Hal serupa dapat terjadi pada beberapa bentuk vitamin C, koenzim tertentu, maupun ekstrak tumbuhan yang kaya senyawa fenolik.
Perubahan tersebut tidak selalu menyebabkan produk langsung rusak. Namun, efektivitasnya dapat berkurang secara bertahap sehingga hasil yang diterima konsumen tidak lagi sama dengan kondisi ketika produk baru diproduksi.
Dikutip dari Handbook of Cosmetic Science and Technology karya Barel, Paye, dan Maibach, stabilitas kosmetik dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, termasuk suhu, oksigen, kelembapan, dan cahaya. Keempat faktor tersebut harus dievaluasi secara bersamaan karena dapat saling mempercepat proses degradasi suatu formula.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dalam pembahasan teknologi formulasi juga menekankan bahwa stabilitas tidak hanya ditentukan oleh pemilihan bahan aktif. Sistem formula, jenis kemasan, dan kondisi penyimpanan merupakan satu kesatuan yang harus dirancang sejak awal proses pengembangan produk.
Baca Juga: Bagaimana Laboratorium Menilai Kompatibilitas Kemasan dan Formula?
Pengujian ketahanan terhadap cahaya tidak dilakukan dengan meletakkan produk di bawah sinar matahari begitu saja. Laboratorium menggunakan alat khusus yang mampu menghasilkan intensitas cahaya dengan parameter yang terukur sehingga setiap sampel memperoleh perlakuan yang konsisten.
Selama proses tersebut, produk diamati secara berkala untuk melihat apakah terjadi perubahan warna, bau, viskositas, pH, maupun penurunan performa bahan aktif. Pada beberapa produk, analisis juga dilakukan menggunakan instrumen laboratorium untuk mengukur kadar senyawa tertentu setelah paparan cahaya berlangsung.
Pengujian ini biasanya dilakukan bersamaan dengan stability test lainnya, seperti penyimpanan pada suhu tinggi, suhu rendah, siklus freeze-thaw, serta evaluasi kompatibilitas antara formula dan kemasan. Tujuannya adalah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perilaku produk selama masa simpannya.
Dalam banyak kasus, hasil pengujian tidak hanya menentukan apakah formula perlu diperbaiki. Data tersebut juga membantu tim R&D memilih jenis kemasan yang paling sesuai. Produk yang mengandung bahan aktif sensitif terhadap cahaya, misalnya, sering menggunakan botol buram, botol berwarna gelap, atau sistem airless untuk mengurangi paparan cahaya dan oksigen.
Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., menjelaskan bahwa mutu kosmetik tidak dapat dinilai hanya dari hasil pengujian pada hari pertama produksi. Produk harus mampu mempertahankan karakteristiknya sepanjang masa edar sehingga kualitas yang diterima konsumen tetap konsisten.
Baca Juga: Bagaimana Laboratorium Menentukan Masa Simpan Produk Kosmetik?
Hasil pengujian fotostabilitas sering menunjukkan bahwa dua formula dengan bahan aktif yang sama dapat memberikan performa yang berbeda. Penyebabnya bukan selalu terletak pada bahan aktif, melainkan pada keseluruhan sistem produk.
Komposisi antioksidan, sistem emulsi, pemilihan bahan pendukung, hingga jenis kemasan dapat menentukan seberapa baik suatu formula mampu bertahan terhadap paparan cahaya. Inilah sebabnya pengembangan kosmetik modern semakin menekankan pendekatan sistem, bukan sekadar memilih bahan yang sedang populer.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa pengujian laboratorium bertujuan mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan kualitas ketika produk berada di tangan konsumen. Semakin baik sebuah formula dipahami sejak tahap pengembangan, semakin besar peluangnya untuk tetap memberikan performa yang konsisten selama masa simpan.
Bagi konsumen, hasil pengujian tersebut mungkin tidak pernah terlihat secara langsung. Namun, ketika sebuah serum tetap jernih, pelembap tidak berubah warna, atau efektivitas produk tetap terjaga hingga akhir masa pakainya, di baliknya terdapat serangkaian evaluasi laboratorium yang memastikan bahwa formula mampu menghadapi berbagai kondisi lingkungan, termasuk paparan cahaya.
Dengan demikian, pengujian terhadap cahaya bukan sekadar prosedur teknis di laboratorium. Ia merupakan bagian dari komitmen ilmiah untuk memastikan bahwa produk yang dikembangkan tetap aman, stabil, dan bekerja sebagaimana mestinya, bukan hanya saat diproduksi, tetapi juga ketika akhirnya digunakan oleh konsumen. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.