Dalam industri kosmetik, klaim produk dapat dibangun dari dua jenis data utama: data laboratorium dan data konsumen. Keduanya memiliki karakter, tujuan, dan implikasi yang berbeda terhadap bagaimana klaim dipahami dan digunakan.
Klaim berbasis data laboratorium biasanya didukung oleh pengujian yang terkontrol dan terstandarisasi. Laboratorium menggunakan metode ilmiah untuk mengukur parameter tertentu, seperti hidrasi kulit [corneometer], sebum [sebumeter], pH, atau ukuran pori. Hasil pengujian ini objektif, terukur, dan dapat direplikasi. Klaim yang dibangun dari data ini cenderung lebih konservatif karena setiap angka atau pengukuran harus dapat dibuktikan secara teknis.
Sebaliknya, klaim berbasis data konsumen berasal dari pengalaman langsung pengguna. Produk diuji melalui consumer use test atau survei, dan respon diberikan secara subjektif. Misalnya, persentase pengguna yang merasa kulit lebih halus atau lebih cerah setelah beberapa minggu. Klaim semacam ini lebih dekat dengan persepsi pasar dan pengalaman nyata, tetapi sifatnya lebih variatif dan dipengaruhi faktor psikologis dan kebiasaan pengguna.
Baca Juga: Ketika Produk Disebut ‘Non-Comedogenic’, Apa yang Sebenarnya Dibuktikan?
Klaim berbasis laboratorium memiliki kekuatan karena didukung oleh pengukuran kuantitatif yang dapat diverifikasi. Ia membantu brand menunjukkan bahwa produk bekerja sesuai parameter tertentu, misalnya “teruji meningkatkan hidrasi hingga 20% dalam 4 minggu” berdasarkan data alat ukur.
Namun, kelemahan klaim laboratorium adalah ia tidak selalu mencerminkan pengalaman konsumen sehari-hari. Produk yang stabil dan efektif secara instrumentasi mungkin tetap terasa kurang nyaman atau tidak memberikan kepuasan sensorik yang diharapkan oleh pengguna.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., menekankan bahwa klaim laboratorium harus dibaca dalam konteks formula, metode pengujian, dan kondisi uji. Tanpa konteks, angka yang ditampilkan di klaim dapat menimbulkan kesan berlebihan atau salah tafsir.
Baca Juga: Ketika Kata ‘Dermatologist Recommended’ Dipakai di Kemasan, Apa Artinya?
Klaim berbasis data konsumen kuat dalam membangun persepsi. Angka yang menunjukkan persentase pengguna yang merasa puas dapat membantu konsumen lain memahami kemungkinan hasil produk secara praktis. Misalnya, “90% pengguna merasa kulit lebih lembap setelah 2 minggu” dapat menjadi alat komunikasi yang efektif.
Namun, klaim konsumen cenderung subjektif dan dipengaruhi ekspektasi, lingkungan, dan kondisi kulit masing-masing individu. Tidak semua respon dapat direplikasi secara ilmiah, dan hasilnya dapat bervariasi dari satu kelompok ke kelompok lain.
Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology menekankan bahwa kombinasi antara pengalaman pengguna dan data laboratorium dapat memberikan gambaran lebih utuh. Klaim yang hanya mengandalkan satu jenis data bisa memunculkan persepsi yang tidak lengkap atau menyesatkan.
Baca Juga: Ketika Angka Persentase Dipakai sebagai Alat Marketing
Brand yang matang biasanya menggabungkan kedua jenis data ini. Data laboratorium memberikan dasar objektif yang kuat, sementara data konsumen menunjukkan relevansi praktis di lapangan. Dengan cara ini, klaim bisa lebih proporsional, jujur, dan tetap menarik bagi konsumen.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa pendekatan ini penting agar klaim tidak hanya terlihat meyakinkan, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun pengalaman nyata pengguna.
Menggunakan kedua perspektif ini juga membantu brand menyesuaikan bahasa klaim. Klaim yang terlalu teknis bisa sulit dipahami konsumen, sementara klaim yang hanya berdasarkan pengalaman pengguna bisa dianggap kurang ilmiah. Kombinasi keduanya menghasilkan komunikasi yang jelas, aman, dan kredibel. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.