Istilah ‘scientifically proven’ terdengar sangat meyakinkan. Namun, klaim ini bukan sekadar kata-kata marketing; ada standar dan bukti yang harus dapat dipertanggungjawabkan.
Di dunia kosmetik, label scientifically proven memberi kesan bahwa produk telah diuji dengan metode ilmiah, aman, dan terbukti efektif. Konsumen biasanya langsung mengasosiasikan klaim ini dengan penelitian laboratorium, uji klinis, atau bukti data yang kredibel. Namun, kenyataannya, istilah ini bisa menjadi ambigu jika tidak dijelaskan konteks dan metodologi yang mendukung.
Secara regulasi, BPOM di Indonesia maupun SCCS di Uni Eropa menegaskan bahwa klaim kosmetik harus objektif, dapat dibuktikan, dan tidak menyesatkan. Sebuah klaim ‘scientifically proven’ berarti brand harus memiliki bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut, baik melalui data laboratorium, uji penggunaan manusia, atau studi konsumen yang relevan.
Baca Juga: Apa Bedanya Klaim Berdasarkan Data Laboratorium dan Data Konsumen?
Klaim ilmiah dapat dibuktikan melalui beberapa cara:
Data Laboratorium – Pengujian di laboratorium memberikan pengukuran objektif terhadap parameter tertentu, seperti hidrasi kulit, kontrol minyak, atau aktivitas antioksidan. Hasil ini harus didokumentasikan dan dapat diverifikasi.
Uji Klinis / Panel – Pengujian pada kelompok subjek tertentu membantu menilai respons nyata terhadap produk. Misalnya, patch test, Human Repeat Insult Patch Test [HRIPT], atau pengukuran efektivitas bahan aktif dalam penggunaan rutin.
Survei Konsumen atau Consumer Use Test – Data ini menunjukkan persepsi pengguna dalam konteks nyata. Misalnya, persentase konsumen yang merasa kulit lebih lembap atau lebih halus setelah beberapa minggu penggunaan.
Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology [CRC Press, 2010] menekankan bahwa kombinasi bukti objektif dan subjektif memberi dasar yang lebih kuat bagi klaim. Namun, setiap jenis bukti memiliki keterbatasan dan harus dibaca dalam konteks.
Baca Juga: Ketika Produk Disebut ‘Non-Comedogenic’, Apa yang Sebenarnya Dibuktikan?
Brand harus memastikan bahwa klaim scientifically proven:
Didukung oleh data yang relevan dan dapat diverifikasi.
Metodologi uji dijelaskan dan sesuai dengan standar ilmiah.
Klaim tidak menimbulkan ekspektasi yang berlebihan bagi konsumen.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menekankan bahwa istilah ini lebih dari sekadar label. Ia harus menunjukkan bahwa produk telah melewati proses evaluasi yang sah, aman digunakan, dan hasilnya sesuai dengan klaim yang ditulis.
Kesalahan umum adalah menggunakan istilah ini hanya karena adanya uji terbatas, atau mengacu pada penelitian bahan aktif saja tanpa memperhitungkan interaksi formula. Padahal, produk akhir yang digunakan konsumen dapat berbeda performanya dibanding uji bahan tunggal.
Selain itu, istilah ini harus digunakan bersama konteks penggunaan, target pengguna, dan durasi pengujian. Klaim ilmiah yang tepat membantu membangun kepercayaan, tetapi jika digunakan secara sembarangan, bisa menyesatkan dan melanggar regulasi.
Dengan demikian, scientifically proven bukan sekadar jargon marketing. Ia menuntut bukti ilmiah yang jelas, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Konsumen yang membaca klaim ini berhak mengetahui bahwa produk tak hanya terlihat ilmiah, tetapi telah diuji dan dibuktikan dengan metode yang sah. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.