Ketika Kata 'Scientifically Proven' Muncul di Kemasan, Apa yang Harus Dibuktikan?

Ketika Kata 'Scientifically Proven' Muncul di Kemasan, Apa yang Harus Dibuktikan?

Istilah ‘scientifically proven’ terdengar sangat meyakinkan. Namun, klaim ini bukan sekadar kata-kata marketing; ada standar dan bukti yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

Di dunia kosmetik, label scientifically proven memberi kesan bahwa produk telah diuji dengan metode ilmiah, aman, dan terbukti efektif. Konsumen biasanya langsung mengasosiasikan klaim ini dengan penelitian laboratorium, uji klinis, atau bukti data yang kredibel. Namun, kenyataannya, istilah ini bisa menjadi ambigu jika tidak dijelaskan konteks dan metodologi yang mendukung.

Secara regulasi, BPOM di Indonesia maupun SCCS di Uni Eropa menegaskan bahwa klaim kosmetik harus objektif, dapat dibuktikan, dan tidak menyesatkan. Sebuah klaim ‘scientifically proven’ berarti brand harus memiliki bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut, baik melalui data laboratorium, uji penggunaan manusia, atau studi konsumen yang relevan.

Baca Juga: Apa Bedanya Klaim Berdasarkan Data Laboratorium dan Data Konsumen?

Jenis Bukti yang Mendukung Klaim

Klaim ilmiah dapat dibuktikan melalui beberapa cara:

Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology [CRC Press, 2010] menekankan bahwa kombinasi bukti objektif dan subjektif memberi dasar yang lebih kuat bagi klaim. Namun, setiap jenis bukti memiliki keterbatasan dan harus dibaca dalam konteks.

Baca Juga: Ketika Produk Disebut ‘Non-Comedogenic’, Apa yang Sebenarnya Dibuktikan?

Apa yang Harus Dipastikan Brand Sebelum Menggunakan Klaim Ini?

Brand harus memastikan bahwa klaim scientifically proven:

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menekankan bahwa istilah ini lebih dari sekadar label. Ia harus menunjukkan bahwa produk telah melewati proses evaluasi yang sah, aman digunakan, dan hasilnya sesuai dengan klaim yang ditulis.

Kesalahan umum adalah menggunakan istilah ini hanya karena adanya uji terbatas, atau mengacu pada penelitian bahan aktif saja tanpa memperhitungkan interaksi formula. Padahal, produk akhir yang digunakan konsumen dapat berbeda performanya dibanding uji bahan tunggal.

Selain itu, istilah ini harus digunakan bersama konteks penggunaan, target pengguna, dan durasi pengujian. Klaim ilmiah yang tepat membantu membangun kepercayaan, tetapi jika digunakan secara sembarangan, bisa menyesatkan dan melanggar regulasi.

Dengan demikian, scientifically proven bukan sekadar jargon marketing. Ia menuntut bukti ilmiah yang jelas, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Konsumen yang membaca klaim ini berhak mengetahui bahwa produk tak hanya terlihat ilmiah, tetapi telah diuji dan dibuktikan dengan metode yang sah. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.