Banyak konsumen membaca label kosmetik dan menganggap bahan pertama adalah yang paling berpengaruh atau paling penting. Namun, dalam praktik formulasi, urutan bahan tidak selalu mencerminkan prioritas manfaat atau kekuatan bahan.
Label komposisi kosmetik diatur secara regulasi, termasuk oleh BPOM di Indonesia dan SCCS di Uni Eropa. Secara umum, bahan ditulis dari yang memiliki konsentrasi tertinggi hingga terendah jika berada di atas 1%, sementara bahan dengan konsentrasi di bawah 1% dapat dicantumkan dalam urutan bebas. Artinya, posisi bahan pada daftar tidak selalu menunjukkan pengaruh utama terhadap performa produk.
Bahan aktif yang memiliki konsentrasi rendah tetap bisa memiliki efek besar, terutama jika diformulasikan dengan sistem penghantaran yang tepat. Misalnya, retinol atau peptida mungkin ada di urutan bawah label, tetapi dapat memberikan efek signifikan karena stabilitasnya dipertahankan dan sistem formulanya mendukung penetrasi kulit.
Baca Juga: Kenapa Dua Bahan yang Baik Belum Tentu Cocok Digabungkan?
Secara regulasi, urutan bahan terutama ditentukan oleh persentase, bukan prioritas manfaat. Misalnya, air sebagai bahan dasar biasanya menempati urutan pertama, sementara bahan aktif penting seperti niacinamide, retinol, atau peptide bisa muncul di urutan tengah atau bawah karena kadarnya relatif kecil. Bagi konsumen, ini bisa menimbulkan kesan bahwa bahan aktif kurang penting, padahal dalam formula ia mungkin menjadi komponen utama yang menentukan performa.
Leslie Baumann dalam Cosmetic Dermatology: Principles and Practice menjelaskan bahwa efek suatu bahan tidak hanya ditentukan oleh konsentrasinya, tetapi juga oleh bentuk bahan, kompatibilitas dengan bahan lain, sistem penghantaran, dan kondisi kulit pengguna. Sebuah bahan dengan persentase kecil bisa sangat efektif jika diformulasikan dengan tepat, sedangkan bahan yang berada di urutan atas belum tentu memberikan efek yang paling terasa.
Selain itu, beberapa bahan pendukung, seperti emolien, pengental, dan pengawet, sering menempati urutan awal karena volumenya lebih besar. Fungsi mereka bukan untuk memberikan manfaat spesifik terhadap kulit, tetapi untuk menjaga stabilitas, tekstur, dan keamanan produk. Kehadiran bahan ini penting, tetapi tidak selalu terlihat oleh konsumen karena manfaatnya lebih bersifat fungsional daripada hasil langsung.
Baca Juga: Mengapa Bahan Pengawet Tetap Dibutuhkan dalam Kosmetik Modern?
Untuk memahami prioritas bahan dalam produk, konsumen perlu melihat label bersama konteks formulasi dan tujuan produk. Bahan aktif yang penting bisa saja berada di urutan kedua atau ketiga, atau bahkan lebih rendah, tetapi tetap menjadi kunci bagi efektivitas produk. Misalnya, peptide, retinol, atau AHA biasanya digunakan dalam konsentrasi rendah tetapi memiliki efek yang kuat pada kulit.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt. menekankan bahwa penting bagi konsumen untuk memahami bahwa urutan bahan bersifat teknis dan berkaitan dengan konsentrasi, bukan efektivitas. Efek formula ditentukan oleh kombinasi seluruh bahan, cara formulasi, sistem penghantaran, dan stabilitas, bukan urutan di label semata.
Selain itu, beberapa bahan yang memiliki efek signifikan bisa muncul di urutan akhir karena konsentrasinya di bawah 1%. Bahan ini masih dapat memberikan manfaat optimal jika diformulasikan dengan teknologi canggih seperti encapsulation, liposome, atau sistem penghantaran lain yang meningkatkan penetrasi kulit. Dengan demikian, membaca label secara mekanis tanpa memahami konteks dapat menyesatkan.
Kesimpulannya, urutan bahan pada label memberikan informasi mengenai komposisi, tetapi bukan ukuran prioritas manfaat. Konsumen yang bijak melihat label sebagai bagian dari informasi lengkap, bersama dengan klaim yang didukung data laboratorium dan pengalaman pengguna, bukan sebagai indikator tunggal dari efektivitas atau kualitas produk. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.