Bagaimana Tren Konsumen Bisa Mengubah Arah Pengembangan Formula?

Bagaimana Tren Konsumen Bisa Mengubah Arah Pengembangan Formula?

Formula kosmetik tidak lahir hanya dari laboratorium. Di balik keputusan memilih bahan, tekstur, dan klaim, ada suara pasar yang terus berubah dan ikut mengarahkan kerja R&D.

Dalam industri kosmetik, tren konsumen sering terlihat sebagai percakapan di media sosial. Ada masa ketika niacinamide menjadi bahan yang dicari banyak orang, lalu bergeser ke retinol, peptide, skin barrier, atau exosome. Bagi konsumen, tren ini tampak seperti gelombang produk baru yang terus berdatangan.

Namun, bagi tim R&D, tren bukan sekadar topik viral. Tren dapat menjadi sinyal tentang kebutuhan, kekhawatiran, dan preferensi pengguna yang sedang berubah. Dari sinyal itulah arah pengembangan formula mulai dipertimbangkan, diuji, lalu diterjemahkan menjadi produk.

Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology [CRC Press, 2010] menjelaskan bahwa produk topikal perlu dibaca sebagai kombinasi antara efektivitas, keamanan, dan penerimaan pengguna. Artinya, formula yang baik tidak cukup hanya benar secara ilmiah, tetapi juga harus dapat diterima dalam konteks penggunaan nyata.

Baca Juga: Mengapa Formula yang Disukai Panelis Belum Tentu Disukai Konsumen?

Tren Konsumen Mengubah Prioritas R&D

Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen tidak lagi hanya mencari produk yang 'mencerahkan' atau 'melembapkan'. Banyak pengguna mulai memperhatikan istilah seperti skin barrier, microbiome, sensitive skin, dan fragrance-free. Perubahan bahasa konsumen ini ikut mengubah cara brand menyusun prioritas pengembangan produk.

Sebagai contoh, meningkatnya perhatian terhadap skin barrier membuat banyak formula lebih menonjolkan bahan seperti ceramide, cholesterol, fatty acid, panthenol, dan niacinamide. Brand tidak hanya menjual hasil akhir berupa kulit tampak sehat, tetapi juga mulai membangun narasi tentang fungsi pelindung kulit. Di ruang R&D, tren ini mendorong pengembangan formula yang lebih lembut, lebih minim iritasi, dan lebih fokus pada tolerabilitas.

Tren clean beauty juga memberi dampak besar pada formulasi. Banyak konsumen mulai menghindari bahan tertentu, termasuk fragrance, alkohol tertentu, atau pengawet yang dianggap kontroversial. R&D kemudian harus mencari cara agar formula tetap stabil dan aman tanpa kehilangan kenyamanan penggunaan.

Namun, mengikuti tren tidak sesederhana mengganti satu bahan dengan bahan lain. Jika fragrance dikurangi, aroma asli bahan baku bisa menjadi lebih terasa. Jika sistem pengawet diubah, produk perlu diuji kembali untuk memastikan perlindungan mikrobiologinya tetap memadai.

Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dalam pembahasan teknologi formulasi menekankan bahwa perubahan preferensi konsumen harus diterjemahkan dengan hati-hati ke dalam sistem formula. Keinginan pasar dapat menjadi arah inovasi, tetapi stabilitas, keamanan, dan kompatibilitas bahan tetap menjadi batas ilmiahnya.

Di titik ini, tren konsumen berfungsi seperti kompas, bukan peta lengkap. Ia menunjukkan arah, tetapi R&D tetap harus menentukan jalur yang aman dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Bagaimana Formula Gagal Dibaca Sejak Tahap Pengembangan?

Tidak Semua Tren Bisa Langsung Menjadi Formula

Salah satu tantangan terbesar dalam industri kosmetik adalah kecepatan tren. Konsumen bisa cepat tertarik pada bahan baru karena viral, ulasan influencer, atau klaim yang terdengar ilmiah. Namun, formula tidak bisa bergerak secepat percakapan pasar tanpa proses validasi.

Bahan yang populer belum tentu mudah diformulasikan. Beberapa bahan membutuhkan pH tertentu, mudah teroksidasi, tidak kompatibel dengan bahan lain, atau membutuhkan sistem penghantaran khusus. Jika brand terlalu cepat mengejar tren tanpa membaca batas teknisnya, produk bisa berisiko tidak stabil atau klaimnya menjadi terlalu besar.

Zoe Diana Draelos dalam Cosmetic Dermatology: Products and Procedures [Wiley-Blackwell, 2016] menjelaskan bahwa pengembangan kosmetik membutuhkan keseimbangan antara performa produk, keamanan, dan pengalaman pengguna. Tren dapat membantu menentukan arah, tetapi formula akhir tetap harus dibuktikan melalui pengujian yang relevan.

Contoh yang sering muncul adalah tren bahan aktif berkonsentrasi tinggi. Konsumen melihat angka besar sebagai tanda kekuatan, lalu brand terdorong membuat produk dengan persentase yang lebih menonjol. Padahal, konsentrasi tinggi tidak selalu berarti hasil lebih baik, terutama jika meningkatkan risiko iritasi atau membuat formula kurang nyaman digunakan.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam konteks evaluasi kosmetik menjelaskan bahwa tren sebaiknya dibaca sebagai masukan, bukan keputusan final. Data stabilitas, keamanan, dan kesesuaian klaim tetap harus menjadi dasar sebelum formula diluncurkan ke pasar.

R&D yang matang tidak menolak tren, tetapi juga tidak tunduk sepenuhnya pada tren. Mereka membaca apa yang dicari konsumen, lalu mengujinya melalui batas formulasi, regulasi, dan keamanan. Dari proses itu, produk yang lahir tidak sekadar ikut ramai, tetapi punya alasan ilmiah untuk hadir.

Tren konsumen memang bisa mengubah arah pengembangan formula. Namun, formula yang baik tidak lahir dari mengikuti tren paling cepat, melainkan dari kemampuan menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi sistem produk yang stabil, aman, dan relevan digunakan. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.