Banyak orang menilai efektivitas kosmetik hanya dari formulanya. Padahal, setelah produk keluar dari laboratorium, ada satu variabel yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh formulator: cara konsumen menggunakannya.
Dua orang dapat memakai serum yang sama, dengan kandungan bahan aktif yang sama pula, tetapi memperoleh hasil yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kondisi kulit. Dalam banyak kasus, kebiasaan penggunaan justru menjadi faktor yang ikut menentukan apakah sebuah formula dapat bekerja sesuai rancangan awalnya.
Di laboratorium, efektivitas produk diuji melalui metode yang terukur. Dosis penggunaan, frekuensi aplikasi, cara penyimpanan, hingga durasi pemakaian dibuat seseragam mungkin agar hasilnya dapat dianalisis secara ilmiah. Ketika produk memasuki pasar, seluruh kendali tersebut berpindah ke tangan konsumen.
Karena itulah, riset kosmetik modern tidak lagi hanya mempelajari formula. Peneliti juga berusaha memahami bagaimana perilaku pengguna dapat memengaruhi performa produk dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari Cosmetic Dermatology: Products and Procedures karya Zoe Diana Draelos, keberhasilan sebuah produk topikal tidak hanya dipengaruhi oleh formulasi, tetapi juga oleh kepatuhan pengguna [patient compliance], cara aplikasi, dan konsistensi penggunaan. Produk yang sangat baik sekalipun dapat memberikan hasil yang kurang optimal apabila digunakan tidak sesuai dengan cara yang dirancang.
Baca Juga: Dari Kampus ke Industri: Mengapa Hilirisasi Jadi Kunci Kosmetik Indonesia?
Salah satu tantangan terbesar dalam riset kosmetik adalah memahami bahwa manusia bukanlah laboratorium.
Dalam pengujian klinis, seluruh peserta memperoleh petunjuk penggunaan yang sama. Produk dipakai dalam jumlah tertentu, pada waktu yang telah ditentukan, dengan durasi penggunaan yang konsisten. Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi variabel yang dapat memengaruhi hasil penelitian.
Namun, situasi di lapangan jauh lebih dinamis.
Ada konsumen yang menggunakan serum dua kali sehari, ada yang hanya ketika ingat. Sebagian mengoleskan produk sesuai anjuran, sementara yang lain menggunakan jumlah yang jauh lebih sedikit karena ingin produk lebih hemat. Tidak sedikit pula yang mengombinasikan berbagai produk tanpa memahami kemungkinan interaksi antarbahan.
Akibatnya, hasil yang diperoleh menjadi sangat beragam. Bukan karena formulanya berubah, melainkan karena cara penggunaan setiap individu berbeda.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dalam berbagai pembahasan mengenai pengembangan kosmetik menjelaskan bahwa performa suatu formula tidak dapat dilepaskan dari bagaimana produk tersebut digunakan oleh konsumen. Oleh sebab itu, proses evaluasi produk tidak hanya mempertimbangkan stabilitas dan keamanan formula, tetapi juga bagaimana produk dapat digunakan secara realistis dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini membuat riset kosmetik berkembang ke arah yang lebih dekat dengan perilaku manusia, bukan hanya perilaku bahan di dalam laboratorium.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan kosmetik mulai melengkapi pengujian laboratorium dengan consumer use test atau studi penggunaan oleh konsumen.
Tujuannya bukan sekadar mengetahui apakah konsumen menyukai produk tersebut, tetapi memahami bagaimana mereka benar-benar menggunakannya. Peneliti mengamati berbagai aspek, mulai dari jumlah produk yang diaplikasikan, waktu penggunaan, kenyamanan tekstur, hingga alasan konsumen menghentikan pemakaian sebelum periode pengujian selesai.
Data seperti ini seringkali memberikan temuan yang tidak muncul di laboratorium.
Sebagai contoh, sebuah pelembap mungkin menunjukkan kemampuan menjaga hidrasi kulit selama delapan jam dalam pengujian instrumentasi. Namun, ketika digunakan oleh konsumen, sebagian besar pengguna ternyata hanya mengaplikasikan produk sekali sehari, padahal rekomendasi penggunaannya dua kali sehari. Hasil yang dirasakan tentu menjadi berbeda, meskipun formulanya tidak berubah.
Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology menjelaskan bahwa efektivitas kosmetik merupakan hasil interaksi antara formula, kondisi kulit, lingkungan, dan perilaku penggunaan. Keempat faktor tersebut saling memengaruhi sehingga tidak dapat dipisahkan ketika mengevaluasi performa produk.
Karena itu, riset kosmetik modern semakin banyak memanfaatkan pendekatan yang menggabungkan data laboratorium dengan data perilaku konsumen. Pendekatan ini membantu perusahaan memahami bukan hanya apakah produk bekerja, tetapi juga bagaimana produk digunakan dalam kondisi nyata.
Baca Juga: Mengapa Formula yang Berhasil di Negara Lain Belum Tentu Cocok di Indonesia?
Hasil riset mengenai perilaku konsumen sering memberikan pelajaran penting bagi industri. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan memperbaiki formula. Dalam banyak kasus, edukasi kepada pengguna justru memberikan dampak yang lebih besar.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., menjelaskan bahwa pengembangan produk kosmetik tidak berhenti ketika formula dinyatakan stabil dan aman. Informasi mengenai cara penggunaan, urutan aplikasi, jumlah yang dianjurkan, hingga cara penyimpanan merupakan bagian dari upaya memastikan produk dapat memberikan manfaat sebagaimana dirancang oleh formulator.
Inilah sebabnya mengapa petunjuk penggunaan pada kemasan tidak boleh dipandang sebagai pelengkap administrasi. Di balik setiap instruksi tersebut terdapat hasil penelitian mengenai bagaimana sebuah produk bekerja secara optimal.
Bagi konsumen, memahami cara menggunakan produk mungkin terdengar sederhana. Namun, dari sudut pandang riset, kebiasaan tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan sebuah formula. Produk terbaik sekalipun membutuhkan cara penggunaan yang tepat agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan.
Itulah mengapa riset kosmetik tidak hanya berbicara tentang molekul, bahan aktif, atau teknologi formulasi. Ia juga berbicara tentang manusia—tentang bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat menjadi bagian yang menentukan keberhasilan sebuah inovasi. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.