Mengapa Hasil In Vitro Tidak Selalu Bisa Diterjemahkan Langsung Menjadi Klaim pada Manusia?

Mengapa Hasil In Vitro Tidak Selalu Bisa Diterjemahkan Langsung Menjadi Klaim pada Manusia?

Bahan yang menunjukkan aktivitas kuat dalam pengujian in vitro belum tentu menghasilkan efek yang sama pada kulit manusia. Perbedaan model, konsentrasi, penetrasi, dan formulasi dapat mengubah hasilnya.

Pengujian in vitro merupakan bagian penting dalam riset kosmetik. Peneliti dapat menguji aktivitas antioksidan, penghambatan enzim, respons sel, atau karakter lain dalam kondisi laboratorium yang relatif terkendali.

Hasilnya sering terlihat menjanjikan. Sebuah ekstrak mungkin menunjukkan penghambatan enzim yang berkaitan dengan penuaan kulit, sementara bahan lain menghasilkan aktivitas biologis tertentu pada kultur sel.

Namun, masalah muncul ketika hasil tersebut langsung diterjemahkan menjadi klaim bahwa produk akan memberikan manfaat yang sama pada manusia. In vitro merupakan model untuk menjawab pertanyaan tertentu, bukan replika lengkap kulit manusia.

Baca Juga: Mengapa Peneliti Kosmetik Perlu Menentukan Control Sebelum Menguji Formula?

Dari Cawan Laboratorium ke Kulit Ada Banyak Variabel

Dalam sistem in vitro, peneliti dapat mengatur konsentrasi bahan dan kondisi paparan dengan presisi. Pada penggunaan nyata, bahan harus berada dalam formula, dilepaskan dari sistem tersebut, mencapai lokasi yang relevan, dan tetap tersedia dalam konsentrasi yang memadai.

Kulit juga memiliki stratum korneum sebagai penghalang. Karena itu, aktivitas suatu bahan dalam larutan atau kultur sel tidak otomatis menunjukkan bahwa jumlah yang sama dapat mencapai target biologis setelah produk diaplikasikan.

Perspektif Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt. terlihat dalam kajiannya mengenai nanopartikel untuk aktivitas anti-aging. Publikasi tersebut membandingkan temuan dari model in vitro dan in vivo dengan studi klinis, sekaligus menyoroti hambatan kulit, kelarutan, stabilitas, dan sistem penghantaran sebagai faktor yang memengaruhi efektivitas bahan topikal.

Artinya, hasil in vitro tetap bernilai besar untuk menyeleksi kandidat dan memahami mekanisme. Namun, tingkat bukti yang diperlukan harus mengikuti pertanyaan yang ingin dijawab.

Hal tersebut terlihat pula dalam penelitian Dr. apt. Soraya Ratnawulan Mita dan tim mengenai penghantaran transdermal katekin. Penelitian tidak berhenti pada evaluasi in vitro, tetapi dilanjutkan dengan evaluasi in vivo. Pendekatan berjenjang ini menunjukkan bahwa performa pada model laboratorium dan respons dalam sistem biologis merupakan pertanyaan penelitian yang berbeda.

Baca Juga: Mengapa Formula Perlu Diuji pada Lebih dari Satu Prototype?

Klaim Produk Memerlukan Bukti yang Sesuai dengan Klaimnya

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika yang dipasarkan bukan bahan, melainkan produk akhir. Formula dapat mengubah kelarutan, stabilitas, pelepasan, dan ketersediaan bahan ketika diaplikasikan.

Penelitian serum wajah berbahan minyak Sacha Inchi yang melibatkan Dr. apt. Soraya juga memperlihatkan pendekatan tersebut. Produk dievaluasi melalui stabilitas, aktivitas in vitro, dan iritasi kulit, sehingga satu jenis pengujian tidak diperlakukan sebagai jawaban untuk seluruh aspek performa produk.

Misalnya, sebuah bahan menunjukkan aktivitas penghambatan elastase in vitro. Data itu dapat mendukung penelitian mengenai potensi aktivitas anti-aging. Namun, data tersebut saja belum membuktikan bahwa krim yang mengandungnya akan mengurangi kerutan pada manusia setelah empat minggu penggunaan.

Untuk membuat klaim semacam itu, desain pembuktian perlu mendekati klaim yang dikomunikasikan. Parameter, populasi, durasi, produk akhir, metode pengukuran, dan kontrol harus disesuaikan dengan manfaat yang hendak dinyatakan.

Hal ini tidak membuat penelitian in vitro menjadi bukti 'lemah'. Justru kekuatannya terletak pada kemampuan menjawab pertanyaan mekanistik secara terkontrol, melakukan screening kandidat, dan membantu menentukan penelitian berikutnya.

Kesalahan terjadi ketika kesimpulannya diperluas melampaui kemampuan model. Aktivitas pada enzim tidak otomatis menjadi perubahan klinis, respons sel tidak otomatis menjadi respons kulit manusia, dan aktivitas suatu bahan tidak otomatis menjadi efektivitas produk akhir.

Dalam riset kosmetik, perjalanan bukti karena itu lebih tepat dibaca sebagai tahapan. In vitro dapat menunjukkan apa yang berpotensi terjadi dan bagaimana mekanismenya, sementara penelitian pada manusia dibutuhkan ketika pertanyaannya sudah berubah menjadi apa yang benar-benar terjadi pada manusia dalam kondisi penggunaan yang relevan. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.