Minyak ikan menawarkan potensi sebagai bahan kosmetik, tetapi rentan mengalami oksidasi. PV, p-AnV, dan TOTOX membantu laboratorium membaca perubahan kualitas yang tidak selalu terlihat.
Minyak ikan mengandung berbagai asam lemak, termasuk omega-3 seperti EPA dan DHA, yang menarik untuk pengembangan kosmetik. Namun, keberadaan asam lemak tak jenuh juga menghadirkan tantangan karena strukturnya relatif rentan terhadap oksidasi. Proses tersebut dapat memengaruhi aroma, warna, komposisi, dan kualitas bahan.
Persoalannya, minyak yang tampak normal belum tentu memiliki kondisi oksidatif yang sama dengan minyak lainnya. Penilaian mutu karena itu membutuhkan pengujian kimia, bukan hanya pemeriksaan visual atau aroma. Tiga parameter yang relevan adalah Peroxide Value [PV], p-Anisidine Value [p-AnV], dan Total Oxidation [TOTOX].
Baca Juga: Mengapa Hasil Pengukuran Viskositas Bisa Berbeda Meski Sampelnya Sama?
PV digunakan untuk menilai produk oksidasi primer, terutama hidroperoksida yang terbentuk pada tahap awal oksidasi lemak. Parameter ini membantu laboratorium mengenali perubahan awal sebelum kerusakan menjadi lebih nyata. Namun, hidroperoksida tidak selalu bertahan karena dapat terurai menjadi senyawa oksidasi berikutnya.
Di sinilah p-AnV memiliki peran berbeda. Parameter tersebut memberikan informasi mengenai produk oksidasi sekunder, terutama kelompok senyawa aldehida yang terbentuk setelah penguraian produk oksidasi primer. Dengan demikian, nilai PV yang rendah tidak selalu berarti minyak belum mengalami oksidasi, terutama jika produk oksidasi awal telah terurai.
TOTOX kemudian digunakan untuk memberikan gambaran gabungan kedua tahap oksidasi tersebut. Secara matematis, perhitungannya dinyatakan sebagai TOTOX = 2 × PV + p-AnV. Nilai ini membantu membaca kondisi oksidatif minyak secara lebih menyeluruh, meskipun tetap perlu diinterpretasikan bersama parameter mutu lainnya.
Pentingnya pendekatan tersebut terlihat dalam penelitian minyak ikan oleh Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., bersama Kamini, M.Si. dan tim. Penelitian mereka mengenai karakterisasi minyak dari hasil samping pengolahan ikan patin mencakup profil asam lemak serta parameter mutu seperti PV, Free Fatty Acids [FFA], p-AnV, dan TOTOX. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kualitas minyak tidak cukup dinilai berdasarkan kandungan omega-3 saja.
Baca Juga: Mengapa Posisi Pengambilan Sampel dari Tangki Dapat Memengaruhi Hasil Pengujian?
Dalam pengembangan kosmetik, pengujian oksidasi memiliki konsekuensi praktis. Minyak ikan harus melewati pengolahan, pencampuran, pengisian, pengemasan, distribusi, dan penyimpanan sebelum digunakan konsumen. Pada setiap tahap, paparan oksigen, suhu, cahaya, serta interaksi dengan komponen formula berpotensi memengaruhi stabilitas bahan.
Penelitian pengembangan minyak ikan untuk kosmetik pada 2026 turut membandingkan sumber patin, nila, tuna, dan makarel. Kandungan omega-3 tertinggi dalam pengamatan tersebut bukan satu-satunya dasar pemilihan bahan. Tim juga mempertimbangkan parameter oksidasi, karakteristik mutu, dan kesesuaian bahan untuk penelitian formulasi lanjutan.
Dari perspektif formulasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menempatkan mutu minyak sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas. Bahan perlu kompatibel dengan emolien, emulsifier, pengawet, antioksidan, dan sistem kemasan. Selain oksidasi, pengembangan produk juga memerlukan evaluasi homogenitas, pH, viskositas, stabilitas, serta karakteristik sensori.
Hal ini menjelaskan mengapa hasil pengujian bahan baku belum dapat langsung dianggap mewakili kondisi produk akhir. Formula yang mengandung minyak ikan membutuhkan pengujian stabilitas yang relevan untuk melihat perubahan selama penyimpanan. Pengukuran PV, p-AnV, dan TOTOX juga harus menggunakan metode yang sesuai dengan matriks sampel agar hasilnya dapat ditafsirkan secara tepat.
Ketiga parameter tersebut bukan bukti langsung bahwa kosmetik aman atau efektif pada kulit. Nilainya membantu menilai kondisi oksidatif minyak, sementara keamanan dan manfaat produk memerlukan pengujian tambahan sesuai tujuan penggunaannya. Batas penerimaan pun perlu ditetapkan berdasarkan standar dan spesifikasi yang relevan, bukan menganggap satu angka berlaku universal.
Bagi laboratorium kosmetik, PV, p-AnV, dan TOTOX memberikan informasi yang saling melengkapi. PV membaca oksidasi primer, p-AnV membantu membaca oksidasi sekunder, sedangkan TOTOX menggabungkan keduanya. Ketiganya membantu memastikan bahwa pemilihan minyak ikan mempertimbangkan kualitas kimia, bukan sekadar potensi biologisnya. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.