Bukti ilmiah suatu bahan penting untuk membangun rasional formula. Namun, klaim pada bahan tidak otomatis dapat dipindahkan menjadi klaim produk akhir.
Sebuah bahan aktif memiliki penelitian yang menunjukkan aktivitas antioksidan. Bahan lain mempunyai data terkait mikrobioma, sementara bahan berikutnya menunjukkan mekanisme yang berhubungan dengan skin barrier. Ketika bahan-bahan tersebut masuk ke kosmetik, bolehkah produk akhirnya membawa klaim yang sama?
Jawabannya tidak otomatis boleh. Ada jarak ilmiah antara bahan mempunyai aktivitas tertentu dan produk yang mengandung bahan tersebut terbukti menghasilkan manfaat yang sama. Jarak itulah yang perlu dijembatani oleh formulasi, pengujian, dan bukti yang relevan.
Diskusi Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. dan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. di Beauty Speak, Cosmobeauté Indonesia 2026 merumuskannya melalui sebuah rantai: Mechanism → Ingredient Evidence → Formulation Evidence → Relevant Testing → Responsible Claim. Prinsipnya sederhana, tetapi penting: klaim seharusnya mengikuti tingkat bukti yang tersedia.
Baca Juga: Klaim ‘Microbiome Friendly’, Evidence Seperti Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan?
Data bahan aktif biasanya diperoleh dalam kondisi tertentu. Ada konsentrasi tertentu, sistem pengujian tertentu, metode tertentu, dan endpoint tertentu yang menjadi dasar kesimpulan penelitian.
Ketika bahan itu masuk ke produk kosmetik, lingkungannya berubah. Ia dapat berinteraksi dengan emulsifier, surfaktan, pengawet, pelarut, humektan, pH, kemasan, hingga kondisi proses produksi. Karena itu, ingredient evidence tidak otomatis menjadi finished-product evidence.
Contohnya terlihat pada EGCG dari teh hijau yang dibahas dalam diskusi tersebut. Aktivitas antioksidannya memiliki dukungan mekanistik yang kuat, tetapi EGCG juga menghadapi persoalan stabilitas yang dipengaruhi oksidasi, panas, pH, sistem formulasi, dan penyimpanan. Artinya, bukti bahwa molekul EGCG mempunyai aktivitas antioksidan belum membuktikan setiap kosmetik yang mengandung EGCG menghasilkan manfaat terukur yang sama pada kulit.
Hal serupa berlaku pada bahan yang berhubungan dengan mikrobioma. Sebuah bahan dapat menunjukkan aktivitas prebiotik, antimikroba, atau modulasi mikroba pada pengujian tertentu. Setelah menjadi produk akhir, efeknya masih dipengaruhi keseluruhan sistem formula sehingga keberadaan bahan tersebut saja belum cukup membuktikan klaim microbiome friendly.
Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Harus Dibuktikan dari Klaim ‘Non-Comedogenic’?
Ini tidak berarti penelitian pada bahan menjadi tidak berguna. Ingredient evidence sangat penting untuk membangun rasional ilmiah, memilih bahan, menentukan hipotesis formulasi, dan merancang pengujian berikutnya. Yang perlu dihindari adalah lompatan dari mekanisme bahan langsung menuju klaim produk tanpa tahapan pembuktian yang memadai.
Jenis bukti yang diperlukan juga bergantung pada klaim yang hendak dibuat. Klaim mengenai hidrasi membutuhkan endpoint yang berbeda dari klaim mengenai pigmentasi, skin barrier, atau mikrobioma. Bahkan istilah luas seperti anti-aging dapat mencakup fine lines, elastisitas, hidrasi, pigmentasi, atau penanda biologis berbeda yang masing-masing memerlukan pembuktian sesuai maknanya.
Karena itu, keberadaan publikasi ilmiah pada bahan sebaiknya menjadi awal proses substansiasi, bukan jalan pintas menuju klaim. R&D perlu menanyakan apakah konsentrasi bahan dalam formula relevan dengan penelitian, apakah bahan tetap stabil, apakah sistem formulasi memengaruhi aktivitasnya, dan apakah produk akhir telah diuji dengan metode serta endpoint yang sesuai.
Perbedaannya mungkin terlihat kecil dalam bahasa pemasaran. “Mengandung bahan yang dalam penelitian menunjukkan aktivitas X” tidak sama tingkat pembuktiannya dengan “produk ini terbukti memberikan manfaat X”. Pernyataan kedua telah memindahkan objek klaim dari bahan menjadi produk.
Diskusi kemudian merangkum persoalan tersebut dengan baik melalui perjalanan dari potensi biologis menuju produk: bahan aktif harus melewati stabilitas, formulasi, delivery, pengujian, dan hasil aktual sebelum menjadi finished-product evidence.
Bagi laboratorium, pertanyaan yang perlu diajukan sebelum sebuah klaim digunakan karena itu bukan hanya “apakah ingredient ini punya penelitian?” Pertanyaan berikutnya justru lebih menentukan: “apakah evidence tersebut benar-benar membuktikan apa yang akan kita katakan tentang finished product?”
Di situlah batas antara ingredient story dan product claim menjadi jelas. Bukti pada bahan memberikan alasan ilmiah untuk mengembangkan produk, tetapi klaim pada produk harus mengikuti apa yang benar-benar dapat dibuktikan pada produk tersebut. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.