Komposisi bisa sama, tetapi hasilnya belum tentu sama. Dalam formulasi kosmetik, urutan penambahan bahan dapat memengaruhi hidrasi polimer, dispersi, emulsifikasi, viskositas, hingga kestabilan produk.
Formula kosmetik sering dibaca sebagai daftar bahan beserta konsentrasinya. Padahal, bagi formulator, mengetahui apa yang digunakan baru separuh cerita. Pertanyaan berikutnya adalah kapan dan bagaimana setiap bahan dimasukkan.
Dua batch dapat dibuat menggunakan komposisi identik tetapi menghasilkan tekstur berbeda ketika urutan penambahannya berubah. Penyebabnya bukan karena bahan tiba-tiba memiliki sifat baru, melainkan karena setiap tahap proses menentukan lingkungan tempat bahan tersebut terhidrasi, larut, terdispersi, atau berinteraksi.
Fenomena ini membuat order of addition menjadi bagian penting dari instruksi manufaktur. Urutan yang telah ditetapkan tidak semestinya diubah hanya karena seluruh bahan pada akhirnya masuk ke tangki yang sama.
Baca Juga: Mengapa Polymorphism Bisa Membuat Bahan yang Sama Berperilaku Berbeda dalam Formula?
Contoh mudah ditemukan pada polimer pengental. Beberapa rheology modifier perlu didispersikan dan diberi kesempatan untuk terhidrasi secara memadai sebelum komponen tertentu ditambahkan. Jika prosesnya tidak tepat, polimer dapat membentuk aglomerat atau tidak berkembang secara optimal.
Carbomer memberikan contoh menarik. Polimer ini umumnya didispersikan terlebih dahulu sebelum proses netralisasi. Ketika kondisi pH berubah melalui penambahan neutralizing agent, rantai polimer mengembang dan viskositas sistem meningkat. Urutan dan kondisi proses karena itu berhubungan langsung dengan pembentukan struktur gel.
Prinsip serupa berlaku pada bahan berbentuk serbuk. Jika serbuk langsung dimasukkan ke sistem yang tidak sesuai, bagian luarnya dapat lebih dahulu terbasahi dan membentuk lapisan yang menyulitkan cairan mencapai bagian dalam. Hasilnya dapat berupa gumpalan yang sulit dihilangkan meskipun pencampuran diteruskan.
Pada emulsi, urutan proses bahkan semakin penting. Komponen fase minyak dan fase air biasanya dipersiapkan sesuai karakter masing-masing sebelum kedua fase digabungkan pada kondisi suhu dan pencampuran yang ditentukan.
Bahan sensitif panas, parfum, atau komponen tertentu juga dapat mempunyai tahap penambahan tersendiri. Memasukkannya terlalu awal dapat meningkatkan paparan terhadap panas atau kondisi proses yang sebenarnya tidak diperlukan.
Baca Juga: Mengapa Variasi Batch Ekstrak Tumbuhan Sulit Dihindari?
Urutan penambahan juga dapat menentukan bagaimana satu bahan bertemu dengan bahan lainnya. Elektrolit, surfaktan, pengatur pH, polimer, dan komponen aktif dapat memengaruhi lingkungan formula sehingga penambahan terlalu dini atau terlalu lambat berpotensi mengubah perilaku sistem.
Karena itu, ketika hasil scale-up berbeda dari prototype laboratorium, investigasi tidak cukup hanya memeriksa apakah jumlah setiap bahan sudah benar. Tim R&D perlu melihat urutan penambahan, suhu pada setiap tahap, waktu pencampuran, kecepatan agitasi, serta kapan parameter seperti pH disesuaikan.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam berbagai pembahasannya mengenai proses formulasi, menempatkan proses sebagai bagian yang membentuk karakter produk, bukan sekadar tahapan untuk mencampurkan daftar bahan. Perspektif tersebut penting karena formula yang tertulis sama belum tentu menghasilkan karakter identik apabila kondisi pembuatannya berubah.
Hal ini juga menjelaskan mengapa manufacturing instruction perlu cukup rinci. Keterangan “tambahkan bahan A, B, dan C” berbeda secara teknis dari instruksi yang menentukan urutan, suhu, waktu hidrasi, kecepatan pencampuran, serta kondisi sebelum tahap berikutnya dimulai.
Perubahan urutan penambahan bahkan sebaiknya dievaluasi melalui change control ketika berpotensi memengaruhi mutu produk. Hasilnya dapat diperiksa melalui parameter seperti penampilan, pH, viskositas, homogenitas, ukuran droplet atau partikel ketika relevan, serta stabilitas.
Bagi formulator, pelajarannya sederhana: formula bukan resep yang hanya ditentukan oleh daftar bahan dan persentasenya. Proses merupakan bagian dari formula itu sendiri.
Semua bahan memang dapat berakhir di dalam tangki yang sama. Namun, perjalanan masing-masing bahan menuju tangki itulah yang dapat menentukan apakah produk akhirnya menjadi gel yang halus, emulsi yang stabil, atau justru formula yang berbeda dari apa yang dirancang di laboratorium. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.