Pori-pori yang tampak lebih kecil belum tentu mengalami perubahan struktur. Pembuktian klaim kosmetik perlu membedakan ukuran, tampilan visual, dan faktor yang memengaruhinya.
Klaim mengecilkan pori-pori banyak ditemukan pada serum, toner, dan produk perawatan wajah. Manfaat tersebut biasanya dikaitkan dengan kulit yang terlihat lebih halus dan tekstur yang lebih merata. Akan tetapi, istilah mengecilkan pori-pori dapat menimbulkan penafsiran berbeda mengenai perubahan yang sebenarnya terjadi.
Pori-pori yang terlihat pada wajah merupakan bukaan folikel pilosebasea di permukaan kulit. Penampilannya dipengaruhi produksi sebum, elastisitas kulit, usia, dan karakteristik permukaan. Karena itu, pembuktian klaim perlu dimulai dengan menentukan parameter yang hendak diukur.
Baca Juga: Bolehkah Klaim Brightening Didukung Hanya oleh Penurunan Nilai Melanin?
Pengukuran pori dapat dilakukan melalui pencitraan dua dimensi atau tiga dimensi. Analisis gambar memungkinkan peneliti menghitung luas, diameter perkiraan, jumlah pori yang terdeteksi, hingga karakteristik bentuknya. Sistem tiga dimensi dapat memberikan informasi tambahan mengenai kedalaman atau volume permukaan.
Penelitian dalam Skin Research and Technology pada 2019 mengembangkan metode analisis gambar untuk mengevaluasi karakteristik pori wajah. Para peneliti menemukan hubungan kuat antara ukuran pori hasil pengukuran dan penilaian visual, dengan koefisien korelasi 0,86. Penelitian tersebut juga mengusulkan pengukuran bentuk, warna, dan orientasi pori untuk memperluas evaluasi.
Temuan itu memperlihatkan pentingnya memilih parameter yang sesuai dengan klaim. Produk yang membuat pori tampak tersamarkan belum tentu mengubah dimensi anatomis bukaannya. Perubahan pantulan cahaya, tekstur permukaan, atau keberadaan lapisan kosmetik dapat memengaruhi hasil pencitraan.
Produksi sebum juga perlu dipertimbangkan. Penelitian dalam British Journal of Dermatology menunjukkan hubungan antara keluaran sebum dan ukuran pori wajah. Meski demikian, penurunan sebum tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa ukuran pori ikut berkurang tanpa pengukuran yang relevan.
Baca Juga: Bolehkah Hasil Uji Satu Produk Digunakan untuk Mendukung Klaim Produk Lain dalam Satu Seri?
Studi yang diterbitkan dalam Cureus pada September 2025 memberikan contoh pengujian efek kosmetik terhadap tampilan pori. Penelitian eksploratif tersebut melibatkan 20 perempuan dengan desain perbandingan sisi wajah. Pengukuran dilakukan sebelum dan 15 menit setelah aplikasi produk menggunakan analisis gambar serta instrumen evaluasi tekstur kulit.
Hasilnya menunjukkan penurunan parameter luas dan jumlah pori yang terdeteksi pada area perlakuan. Akan tetapi, perubahan dalam waktu singkat lebih tepat ditafsirkan sebagai perbaikan karakteristik permukaan atau tampilan pori yang terukur. Penelitian tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan perubahan permanen pada struktur pori.
Dalam konteks ilmu formulasi, Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, memiliki karya ilmiah mengenai validasi metode analisis. Prinsip yang relevan adalah bahwa metode harus terbukti sesuai dengan parameter yang hendak diukur. Penerapannya pada pengujian pori merupakan analisis redaksi berdasarkan prinsip tersebut, bukan pernyataan langsung beliau mengenai klaim pore minimizing.
Penelitian klaim juga perlu mengendalikan pencahayaan, posisi wajah, lokasi pengukuran, dan kondisi kulit sebelum pengambilan gambar. Perbedaan prosedur dapat memengaruhi jumlah maupun luas pori yang dikenali perangkat lunak. Penggunaan kelompok pembanding dan pengukuran berulang membantu memperkuat interpretasi hasil.
Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika menjadi rujukan regulasi Indonesia. Prinsip pembuktian dalam kerangka ASEAN juga menekankan bahwa manfaat yang diklaim harus memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, redaksi klaim harus sejalan dengan jenis bukti yang dimiliki perusahaan.
Apabila pengujian hanya menunjukkan penurunan tampilan pori setelah pemakaian, frasa seperti “membantu menyamarkan tampilan pori-pori” lebih sesuai daripada menjanjikan penyusutan permanen. Sebaliknya, klaim perubahan ukuran memerlukan pengukuran dimensi yang relevan, disertai rancangan penelitian yang mampu mendukung kesimpulannya.
Pembuktian klaim mengurangi masalah pori-pori bukan sekadar menunjukkan angka yang menurun. Laboratorium perlu memastikan apakah angka tersebut mewakili ukuran, luas, jumlah pori yang terlihat, atau perubahan tekstur permukaan. Ketepatan memilih parameter menentukan ketepatan manfaat yang dapat dijanjikan kepada konsumen. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.