Dalam kosmetik, ada klaim yang dibangun dari hasil pengujian, ada juga yang tumbuh dari pengalaman penggunaan. Keduanya bisa terasa meyakinkan, tetapi tidak selalu memiliki dasar pembuktian yang sama.
Di industri skincare, konsumen sering bertemu dengan klaim yang terdengar sangat spesifik. Produk disebut mampu membuat kulit terasa lebih sehat, tampak lebih cerah, atau terlihat lebih muda dalam waktu tertentu. Bahasa seperti ini bekerja bukan hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai pembentuk ekspektasi.
Masalahnya, ekspektasi sering berkembang lebih cepat daripada data yang mendukungnya. Ketika produk mulai digunakan, pengguna tidak hanya menilai hasil biologis pada kulit, tetapi juga sensasi, kenyamanan, dan keyakinan terhadap produk tersebut. Dari sini, pengalaman penggunaan mulai bercampur dengan persepsi.
Leslie Baumann dalam Cosmetic Dermatology: Principles and Practice [McGraw-Hill, 2009] menjelaskan bahwa pengalaman pengguna dalam kosmetik dipengaruhi oleh faktor objektif dan subjektif sekaligus. Perubahan pada kulit dapat diukur, tetapi kepuasan pengguna juga dipengaruhi oleh sensasi dan ekspektasi yang menyertainya.
Baca Juga: Klaim Produk: Fakta atau Persepsi yang Dibentuk?
Dalam proses pengembangan kosmetik, klaim biasanya berasal dari hasil pengujian tertentu. Produk dapat diuji menggunakan instrumen seperti corneometer untuk hidrasi atau cutometer untuk elastisitas kulit. Data yang diperoleh kemudian diterjemahkan menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami konsumen.
Di titik inilah perubahan makna mulai terjadi. Data laboratorium yang sebenarnya sangat spesifik diringkas menjadi kalimat yang jauh lebih sederhana. Akibatnya, konsumen sering melihat klaim sebagai kepastian penuh, padahal data pengujiannya memiliki konteks dan batas.
Sebagai contoh, klaim “membantu menyamarkan garis halus” dapat berasal dari perubahan kecil pada parameter elastisitas kulit dalam periode tertentu. Namun, ketika diterima konsumen, klaim itu bisa dimaknai sebagai perubahan yang jauh lebih besar dari hasil pengujian sebenarnya.
Dalam regulasi Uni Eropa melalui Commission Regulation [EU] No 655/2013, klaim kosmetik diwajibkan tetap proporsional dengan bukti yang tersedia. Regulasi ini menekankan bahwa bahasa pemasaran tidak boleh menciptakan kesan yang melampaui data. Ini menunjukkan bahwa klaim bukan hanya soal kreativitas komunikasi, tetapi juga soal tanggung jawab ilmiah.
Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dalam pembahasan teknologi formulasi menyebut bahwa validitas klaim harus dilihat bersama sistem pengujiannya. “Data yang baik tidak cukup hanya menghasilkan angka, tetapi juga harus diterjemahkan secara tepat,” jelasnya.
Dalam praktik industri, tekanan pemasaran sering membuat klaim menjadi lebih agresif dibandingkan bahasa ilmiahnya. Produk tidak hanya harus terlihat efektif, tetapi juga harus terasa menarik secara komunikasi. Dari sini, jarak antara data dan persepsi mulai terbentuk.
Baca Juga: Harga Tinggi, Klaim Tinggi, Tapi Apakah Selalu Sejalan?
Ketika konsumen menggunakan produk, yang dinilai bukan hanya perubahan biologis pada kulit. Tekstur, aroma, sensasi dingin, dan rasa nyaman ikut membentuk pengalaman. Produk yang terasa lebih ‘mewah’ sering dianggap bekerja lebih baik meskipun data objektifnya belum tentu berbeda jauh.
Penelitian oleh Hilke Plassmann dan tim dalam Proceedings of the National Academy of Sciences [2008] menunjukkan bahwa ekspektasi dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap suatu produk. Produk yang diasosiasikan dengan kualitas lebih tinggi cenderung dinilai lebih efektif, bahkan ketika produk yang digunakan sebenarnya identik.
Fenomena ini terlihat jelas dalam industri kosmetik modern. Produk dengan kemasan premium, narasi ilmiah kompleks, dan istilah seperti clinical-grade atau advanced formula sering terasa lebih meyakinkan bagi konsumen. Persepsi terhadap kualitas dibentuk sebelum produk benar-benar bekerja di kulit.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam diskusi akademik menjelaskan bahwa persepsi pengguna tetap penting dalam evaluasi kosmetik, tetapi tidak boleh menggantikan data objektif. Pengalaman konsumen dapat menjadi pelengkap, bukan satu-satunya dasar untuk menilai efektivitas.
Contoh yang sering muncul adalah klaim “kulit terasa lebih lembap sejak pemakaian pertama”. Sensasi ini memang bisa dirasakan dengan cepat karena adanya humektan atau film former dalam formulasi. Namun, sensasi lembap instan berbeda dengan perbaikan fungsi skin barrier yang membutuhkan waktu dan pengukuran lebih lanjut.
Melihat klaim dengan lebih kritis berarti memahami bahwa pengalaman pengguna dan data ilmiah bekerja di jalur yang berbeda. Keduanya dapat saling mendukung, tetapi juga dapat menghasilkan kesan yang tidak selalu identik.
Nilai sebuah klaim tidak berhenti pada kalimat yang terdengar meyakinkan, tetapi pada kualitas pembuktian yang menyertainya. Dari titik itu, konsumen dapat mulai melihat perbedaan antara hasil yang benar-benar terukur dan kesan yang terutama dibentuk oleh persepsi. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.