Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran [FFUP] kembali hadir di ajang Indonesia Cosmetic Ingredients [ICI] 2026 dengan membawa pendekatan baru: integrasi riset farmasi dan kecerdasan buatan untuk personalisasi perawatan kulit.
Berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, ajang yang diselenggarakan Perhimpunan Pengusaha Kosmetik Indonesia [Perkosmi] ini jadi salah satu platform utama bagi pelaku industri untuk mempertemukan inovasi bahan, teknologi, dan formulasi kosmetik.
Partisipasi ini menandai keikutsertaan keempat Fakultas Farmasi Unpad dalam ICI. Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si. menyampaikan bahwa kehadiran ini merupakan bagian dari komitmen institusi untuk mengikuti perkembangan global sekaligus mendekatkan dunia akademik dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini tidak hanya menampilkan hasil riset, tetapi juga membuka ruang kolaborasi strategis dengan berbagai mitra.
Dalam pameran kali ini, Unpad menampilkan berbagai capaian tridarma perguruan tinggi yang melibatkan program sarjana hingga doktoral di bidang farmasi dan kosmetik. Inovasi yang dihadirkan mencerminkan kolaborasi pentahelix, yang mencakup akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media. Model ini menjadi fondasi dalam mendorong hilirisasi riset agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
Baca Juga: Kenapa Validasi Produk Sering Diabaikan Brand?
Booth Fakultas Farmasi Unpad menghadirkan beragam inovasi, mulai dari riset hingga produk komersial. Di sisi riset, pengunjung dapat melihat pengembangan teknologi nano kosmetik, fermented ingredient, ekstraksi terstandar, hingga pendekatan DNA rekombinan. Inovasi ini menunjukkan arah pengembangan kosmetik berbasis sains yang semakin kompleks.
Selain itu, berbagai produk hasil hilirisasi juga ditampilkan, termasuk skincare, hair care, patch, hingga konsep green cosmetic dan halal cosmetic. Bukan hanya produk jadi, bahan baku inovatif seperti ekstrak tanaman, mineral laut terkonsentrasi, minyak sacha inchi, serta bahan berbasis produk lebah turut diperkenalkan sebagai bagian dari ekosistem formulasi.
Layanan Labcos [Laboratorium Kosmetik] juga jadi bagian penting dalam pameran ini. Layanan ini mencakup konsultasi pengembangan brand, pemenuhan CPKB, pengujian keamanan, hingga validasi klaim kosmetik. Kehadiran Labcos menunjukkan bahwa pengembangan produk tidak berhenti di formulasi, tetapi juga mencakup aspek regulasi dan kualitas.
Dalam sesi seminar universitas, Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si. diagendakan turut jadi pembicara dengan topik eksplorasi bahan baku untuk nanokosmetika berbasis kearifan lokal. Materi ini menyoroti bagaimana riset farmasi dapat dikembangkan dengan pendekatan yang kontekstual terhadap sumber daya lokal.
Baca Juga: Klaim Produk: Fakta atau Persepsi yang Dibentuk?
Salah satu sorotan utama dalam partisipasi tahun ini adalah inovasi berbasis kecerdasan buatan melalui konsep personalized cosmetic. Inovasi ini diwujudkan dalam aplikasi Cantik.AI yang dikembangkan oleh apt. Yokaniza Rindiantika N., S.Farm. Aplikasi ini menggunakan teknologi face scanning untuk menganalisis kondisi kulit secara individual.
Sistem ini mampu mengidentifikasi berbagai parameter, seperti hidrasi, pigmentasi, ukuran pori, dan indikasi penuaan dini. Berdasarkan analisis tersebut, pengguna mendapatkan rekomendasi perawatan yang spesifik, mulai dari rutinitas skincare hingga pemilihan produk yang sesuai.
Keunggulan dari pendekatan ini terletak pada integrasi antara teknologi digital dan hasil riset akademik. Produk yang direkomendasikan tidak hanya berbasis algoritma, tetapi juga berasal dari formulasi yang dikembangkan oleh peneliti. Hal ini membuka peluang untuk menjembatani kesenjangan antara riset laboratorium dan kebutuhan nyata pengguna.
Pengembangan inovasi ini juga sejalan dengan program hilirisasi Universitas Padjadjaran yang didukung oleh Kantor Sains dan Teknologi serta Direktorat Riset dan Hilirisasi Produk. Fokusnya adalah mempercepat komersialisasi hasil riset dan mendorong lahirnya startup berbasis inovasi.
Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas perawatan kulit melalui personalisasi, sekaligus mendorong adopsi teknologi AI di industri kosmetik. Kolaborasi antara akademisi dan industri jadi kunci dalam memperluas dampak inovasi ini di masa depan. [][Tim Labcos/LC]