Harga sering dijadikan sinyal kualitas. Semakin mahal produk, semakin tinggi ekspektasi terhadap klaimnya. Namun, dalam kosmetik, hubungan ini tidak selalu berjalan lurus.
Di pasar skincare, harga dan klaim sering berjalan berdampingan. Produk dengan harga tinggi cenderung membawa klaim yang lebih kompleks, mulai dari teknologi canggih hingga bahan eksklusif. Hal ini membentuk persepsi bahwa harga menjadi indikator langsung dari efektivitas.
Namun, dalam praktik formulasi dan regulasi, klaim tidak ditentukan oleh harga. Klaim harus tetap mengacu pada data dan pembuktian yang relevan, terlepas dari posisi harga produk tersebut. Di sinilah muncul ketegangan antara strategi pemasaran dan dasar ilmiah.
Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology [CRC Press, 2010] menekankan bahwa efektivitas produk tidak ditentukan oleh harga, tetapi oleh formulasi dan bukti yang mendukungnya. Dari sini, hubungan antara harga dan klaim perlu dibaca dengan lebih kritis.
Baca Juga: Generalisasi Klaim dalam Skincare Membuat Semua Terlihat Sama
Harga memiliki peran psikologis yang kuat dalam membentuk persepsi konsumen. Produk dengan harga tinggi sering diasosiasikan dengan kualitas premium dan hasil yang lebih cepat. Persepsi ini kemudian diperkuat oleh klaim yang digunakan dalam komunikasi produk.
Sebagai contoh nyata, banyak serum dengan harga tinggi menggunakan klaim seperti advanced peptide complex atau multi-layer delivery system. Istilah ini memberikan kesan bahwa teknologi yang digunakan lebih unggul dibandingkan produk dengan harga lebih rendah. Namun, tidak semua klaim tersebut memiliki perbedaan performa yang signifikan dalam kondisi penggunaan nyata.
Di sisi lain, produk dengan harga lebih terjangkau sering menggunakan klaim yang lebih sederhana, seperti hidrasi atau perawatan dasar kulit. Padahal, dalam beberapa kasus, bahan seperti glycerin atau niacinamide pada konsentrasi optimal sudah mampu memberikan efek yang terbukti secara ilmiah.
Lodén dalam International Journal of Cosmetic Science [2003] menunjukkan bahwa humektan sederhana seperti glycerin tetap menjadi salah satu bahan paling efektif untuk hidrasi kulit. Ini menunjukkan bahwa klaim tidak selalu harus kompleks untuk menjadi valid.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa harga sering mendorong narasi klaim, bukan sebaliknya. Klaim menjadi alat untuk membenarkan harga, bukan hasil dari kebutuhan formulasi semata.
Baca Juga: Amankah Klaim 'Alami' Tanpa Sertifikasi dalam Produk Kosmetik
Dalam regulasi, harga tidak pernah menjadi parameter dalam penilaian klaim. Baik produk murah maupun mahal harus memenuhi prinsip yang sama, yaitu klaim harus jujur, tidak menyesatkan, dan dapat dibuktikan. Prinsip ini berlaku di berbagai wilayah regulasi.
Di Indonesia, Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 menegaskan bahwa klaim kosmetik harus didukung oleh data yang relevan. Tidak ada pengecualian berdasarkan harga atau posisi produk di pasar. Artinya, produk premium tetap harus memenuhi standar pembuktian yang sama dengan produk mass market.
Di Uni Eropa, Commission Regulation [EU] No 655/2013 menekankan bahwa klaim tidak boleh melebih-lebihkan karakteristik produk. Klaim harus proporsional dengan bukti yang tersedia, terlepas dari strategi harga yang digunakan oleh brand.
Contoh nyata dapat dilihat pada produk dengan klaim anti-aging. Produk premium sering menjanjikan hasil yang lebih cepat atau lebih signifikan. Namun, jika klaim tersebut tidak didukung oleh uji klinis yang memadai, maka validitasnya tetap dapat dipertanyakan.
Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dalam pembahasan farmasi kosmetik menyebut bahwa klaim harus berdiri di atas data, bukan harga. "Harga tidak menjadi dasar validitas klaim, yang menentukan adalah pembuktian ilmiahnya," jelasnya dalam diskusi akademik.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm, juga menambahkan bahwa persepsi harga sering mempengaruhi cara konsumen membaca klaim. "Produk mahal sering dianggap lebih efektif, padahal evaluasi harus kembali ke formulasi dan data uji," ungkapnya.
Dari perspektif ini, hubungan antara harga dan klaim menjadi lebih jelas. Harga dapat mempengaruhi persepsi, tetapi tidak menentukan kebenaran klaim.
Melihat klaim melalui lensa harga saja berisiko menyesatkan. Produk mahal tidak selalu lebih efektif, dan produk terjangkau tidak selalu kurang berkualitas. Yang menjadi kunci adalah bagaimana klaim tersebut didukung oleh data.
Tulisan ini tidak menolak perbedaan harga dalam produk kosmetik. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana harga digunakan dalam membangun klaim. Di antara strategi pemasaran dan pembuktian ilmiah, keseimbangan menjadi hal yang penting. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.