Kenapa Produk Kosmetik Tidak Bisa Menjanjikan Hasil Permanen?

Kenapa Produk Kosmetik Tidak Bisa Menjanjikan Hasil Permanen?

Di dunia kosmetik, banyak klaim terdengar sangat meyakinkan. Namun, ada satu batas yang hampir selalu dijaga regulator: produk kosmetik tidak boleh menjanjikan hasil permanen seperti terapi medis.

Di industri skincare, kata-kata seperti “menghilangkan”, “memperbaiki total”, atau “hasil permanen” memiliki daya tarik yang besar. Konsumen cenderung mencari kepastian, terutama ketika berhubungan dengan masalah kulit yang memengaruhi rasa percaya diri. Namun, dari sudut pandang regulasi, janji permanen justru menjadi wilayah yang sensitif.

Kosmetik pada dasarnya dirancang untuk merawat, menjaga, membersihkan, memperindah, atau membantu memperbaiki tampilan kulit secara sementara dan bertahap. Ketika sebuah produk mulai menjanjikan perubahan permanen pada struktur atau fungsi biologis kulit, batas antara kosmetik dan obat mulai menjadi kabur.

Di Indonesia, Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika menegaskan bahwa klaim kosmetik harus objektif, tidak menyesatkan, dan sesuai fungsi kosmetika. Karena itu, klaim yang memberi kesan hasil permanen atau terapeutik perlu sangat dibatasi.

Baca Juga: Kenapa Tidak Semua Klaim Bisa Ditulis di Kemasan?

Kosmetik Bekerja Merawat, Bukan Mengubah Tubuh Secara Permanen

Dalam regulasi modern, kosmetik dibedakan dari obat berdasarkan tujuan dan mekanisme kerjanya. Kosmetik bekerja terutama pada permukaan tubuh atau lapisan luar kulit, sementara obat diarahkan untuk memengaruhi fungsi biologis atau mengatasi kondisi medis tertentu.

Inilah sebabnya klaim seperti “menghilangkan flek selamanya”, “menghapus kerutan permanen”, atau “menyembuhkan jerawat total” menjadi bermasalah secara regulatori. Kalimat seperti itu memberi kesan bahwa produk dapat menghasilkan perubahan biologis permanen, padahal kosmetik tidak dievaluasi dalam kerangka terapi medis.

Di Amerika Serikat, FDA menjelaskan bahwa produk yang diklaim dapat memengaruhi struktur atau fungsi tubuh dapat masuk kategori obat. Artinya, satu frasa dalam kemasan dapat mengubah cara regulator menilai sebuah produk. Bukan hanya formulanya yang diperiksa, tetapi juga pembuktian ilmiah dan jalur izinnya.

Hal serupa juga berlaku di Uni Eropa melalui Commission Regulation [EU] No 655/2013. Regulasi ini mengatur bahwa klaim kosmetik harus jujur, proporsional, dan tidak menciptakan kesan yang melampaui bukti yang tersedia. Janji permanen sering dianggap berlebihan karena kondisi kulit manusia sendiri terus berubah dari waktu ke waktu.

Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dalam pembahasan farmasi kosmetik menjelaskan bahwa respons kulit dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usia, lingkungan, hormon, pola hidup, hingga kondisi skin barrier. Karena itu, hasil penggunaan produk tidak mungkin diposisikan sebagai sesuatu yang permanen dan identik pada semua individu.

Sebagai contoh, produk pencerah dapat membantu mengurangi tampilan hiperpigmentasi selama digunakan secara rutin. Namun, paparan sinar UV, inflamasi kulit, dan proses biologis alami tetap dapat memicu munculnya pigmentasi kembali. Dari sini, konsep “hasil permanen” menjadi tidak realistis untuk kosmetik.

Baca Juga: Standar Produksi yang Tidak Terlihat Konsumen

Janji Permanen Sering Berasal dari Bahasa Marketing

Dalam komunikasi pemasaran, brand sering terdorong menggunakan bahasa yang terdengar lebih kuat agar produk terlihat menonjol. Kata seperti “instan”, “maksimal”, atau “permanen” membangun ekspektasi yang cepat dipahami konsumen. Namun, semakin besar janji yang digunakan, semakin besar pula risiko regulasinya.

Penelitian dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan bahwa konsumen lebih mudah mengingat klaim yang bersifat absolut dibanding klaim yang moderat. Masalahnya, klaim absolut sering kali sulit dipertahankan secara ilmiah karena kondisi kulit manusia sangat dinamis.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam konteks evaluasi kosmetik menekankan bahwa formulasi kosmetik bekerja dalam konteks pemakaian rutin dan kondisi kulit yang terus berubah. Produk dapat membantu memperbaiki tampilan kulit, tetapi hasilnya tetap dipengaruhi cara penggunaan dan faktor eksternal lainnya.

Fenomena ini terlihat jelas pada produk anti-aging. Banyak produk mampu membantu memperbaiki tampilan garis halus atau meningkatkan hidrasi kulit. Namun, proses penuaan biologis tetap berlangsung karena dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar penggunaan satu produk.

Karena itu, regulator di banyak negara lebih menerima bahasa seperti “membantu menyamarkan”, “membantu menjaga”, atau “membantu memperbaiki tampilan”. Kalimat seperti ini dianggap lebih proporsional terhadap kemampuan kosmetik dan lebih sesuai dengan data yang biasanya tersedia.

Membaca klaim secara lebih kritis membantu melihat bahwa kosmetik bukan produk ajaib yang menghentikan proses biologis tubuh. Ia bekerja membantu kondisi kulit tetap terawat dalam penggunaan yang konsisten, bukan mengubahnya secara permanen.

Di titik itulah regulasi berfungsi menjaga jarak antara harapan dan realitas. Bukan untuk membatasi inovasi, tetapi untuk memastikan bahwa bahasa yang dipakai brand tetap dekat dengan apa yang benar-benar bisa dibuktikan oleh produknya. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.