Dalam industri kosmetik, satu kata bisa mengubah arti sebuah produk. Kalimat yang terdengar sederhana bagi konsumen dapat memiliki konsekuensi besar bagi regulator, perusahaan, bahkan kepercayaan pasar.
Ketika membaca kemasan kosmetik, konsumen sering menemukan kata-kata seperti 'membantu', 'merawat', 'menyamarkan', atau 'mengurangi tampilan'. Di sisi lain, ada istilah yang terdengar lebih kuat seperti 'menghilangkan', 'menyembuhkan', atau 'memperbaiki secara permanen'. Perbedaan kata-kata ini terlihat kecil, tetapi dalam dunia regulasi, maknanya sangat besar.
Bagi banyak brand, menyusun klaim bukan hanya pekerjaan pemasaran. Proses ini melibatkan tim regulasi, riset, formulasi, hingga penjaminan mutu. Setiap kalimat harus dipastikan sesuai dengan data yang tersedia dan tidak menempatkan produk pada kategori yang berbeda dari izin yang dimilikinya.
Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika menegaskan bahwa klaim kosmetik harus objektif, jujur, tidak menyesatkan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, bahasa yang digunakan tidak boleh sekadar menarik perhatian, tetapi juga harus memiliki dasar ilmiah yang memadai.
Baca Juga: Kenapa Audit Tidak Selalu Menunjukkan Kualitas Sebenarnya?
Dalam regulasi kosmetik, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa menjadi bagian dari cara regulator memahami tujuan dan fungsi sebuah produk. Karena itu, pilihan kata dapat menentukan apakah suatu produk tetap dianggap kosmetik atau mulai mendekati wilayah obat.
Sebagai contoh, kalimat 'membantu merawat kulit berjerawat' memiliki makna yang berbeda dengan 'mengobati jerawat'. Kalimat pertama masih berada dalam konteks perawatan kosmetik. Kalimat kedua mengarah pada fungsi terapeutik yang biasanya berada dalam wilayah obat.
Hal serupa berlaku pada klaim pencerah kulit. Ungkapan seperti 'membantu menyamarkan tampilan noda hitam' lebih mudah dipertanggungjawabkan dibanding 'menghilangkan flek secara permanen'. Kata 'permanen' membawa janji yang jauh lebih besar dan membutuhkan pembuktian yang sangat kuat.
Di Amerika Serikat, FDA menjelaskan bahwa produk yang diklaim dapat mengobati penyakit atau memengaruhi struktur dan fungsi tubuh dapat dikategorikan sebagai obat. Karena itu, banyak kasus regulasi bermula bukan dari formula, tetapi dari cara sebuah produk dikomunikasikan kepada publik.
Commission Regulation [EU] No 655/2013 di Uni Eropa juga menekankan bahwa klaim kosmetik harus jujur, adil, dan didukung bukti yang memadai. Regulasi ini lahir karena bahasa yang terlalu agresif dapat menciptakan ekspektasi yang tidak sesuai dengan kemampuan produk sebenarnya.
Dalam konteks evaluasi kosmetik, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menyoroti persoalan klaim harus dibangun dari data yang tersedia. Ketika bahasa bergerak lebih jauh daripada bukti yang dimiliki, risiko regulasi dan risiko misinformasi kepada konsumen ikut meningkat.
Baca Juga: Kenapa Produk Kosmetik Tidak Bisa Menjanjikan Hasil Permanen?
Bahasa klaim yang berlebihan mungkin terlihat menarik dalam jangka pendek. Janji yang besar sering lebih mudah menarik perhatian dibanding pernyataan yang lebih hati-hati. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi juga dapat menjadi sumber kekecewaan ketika pengalaman pengguna tidak sesuai dengan yang dibayangkan.
Penelitian dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan bahwa persepsi konsumen sangat dipengaruhi oleh cara manfaat produk dikomunikasikan. Semakin absolut sebuah klaim, semakin besar ekspektasi yang terbentuk. Ketika hasil nyata tidak memenuhi ekspektasi tersebut, kepercayaan terhadap brand dapat menurun.
Materi Blueprint of Trust menekankan bahwa kepercayaan dibangun dari konsistensi antara apa yang dijanjikan dan apa yang benar-benar diberikan. Dalam konteks kosmetik, klaim bukan hanya alat penjualan, tetapi juga bentuk komitmen kepada konsumen. Ketika klaim melampaui bukti yang ada, fondasi kepercayaan mulai melemah.
Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dalam kajian farmasi industri melihat mutu dan komunikasi sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Produk yang baik membutuhkan klaim yang akurat, sementara klaim yang baik harus memiliki produk dan data yang mampu mendukungnya. Hubungan ini membuat bahasa menjadi bagian dari sistem mutu, bukan sekadar elemen pemasaran.
Inilah alasan mengapa brand yang matang sering memilih kata-kata yang terlihat lebih hati-hati. Bukan karena produknya kurang baik, melainkan karena mereka memahami batas antara data, harapan, dan tanggung jawab. Dalam regulasi kosmetik, kehati-hatian bukan tanda kelemahan. Justru di situlah profesionalisme mulai terlihat.
Klaim yang kuat bukanlah klaim yang paling keras terdengar. Klaim yang kuat adalah klaim yang tetap bisa dipertahankan ketika regulator bertanya, ketika data diperiksa, dan ketika konsumen membandingkannya dengan pengalaman nyata mereka sendiri. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.