Istilah ‘clinical tested’ sering terdengar meyakinkan di dunia kosmetik. Namun, di balik klaim tersebut, kedalaman pengujian yang dilakukan ternyata bisa sangat berbeda antara satu produk dan produk lainnya.
Di industri skincare, kata ‘clinical’ memiliki daya tarik yang kuat. Istilah ini memberi kesan bahwa produk telah melewati proses ilmiah yang serius dan terukur. Banyak konsumen kemudian menganggap produk dengan klaim clinical tested otomatis lebih terpercaya dibandingkan produk tanpa klaim serupa.
Masalahnya, istilah tersebut tidak selalu menjelaskan seperti apa pengujiannya dilakukan. Dalam praktik industri, clinical tested dapat merujuk kepada berbagai jenis evaluasi, mulai dari pengamatan sederhana pada sejumlah kecil partisipan hingga pengujian instrumental dengan metodologi yang lebih kompleks. Perbedaan ini jarang terlihat di kemasan.
Howard I. Maibach dalam Cosmetic Dermatology [CRC Press, 2010] menjelaskan bahwa kualitas pengujian produk topikal sangat ditentukan oleh desain studi, jumlah subjek, parameter evaluasi, dan metode pengukuran yang digunakan. Tanpa informasi tersebut, istilah ‘clinical tested’ menjadi terlalu luas untuk diinterpretasikan secara seragam.
Baca Juga: Ketika Klaim Terasa Nyata, Tapi Data Belum Tentu Bicara Sama
Dalam dunia farmasi, istilah uji klinis biasanya merujuk pada penelitian terstruktur dengan protokol ketat, kontrol variabel, dan analisis statistik yang jelas. Namun, dalam kosmetik, penggunaan istilah clinical tested tidak selalu berada pada level pengujian yang sama seperti obat.
Beberapa produk menggunakan istilah tersebut setelah menjalani consumer use test sederhana. Dalam metode ini, sejumlah partisipan menggunakan produk selama periode tertentu, lalu memberikan penilaian berdasarkan pengalaman mereka. Pengujian seperti ini tetap memiliki nilai, tetapi berbeda dengan studi klinis yang menggunakan parameter objektif dan kontrol lebih ketat.
Ada juga produk yang menggunakan pengukuran instrumental seperti corneometer untuk hidrasi atau cutometer untuk elastisitas kulit. Pengujian seperti ini memberikan data yang lebih objektif karena perubahan pada kulit diukur menggunakan alat, bukan hanya persepsi pengguna.
Namun, kedalaman data tetap bergantung kepada desain penelitian. Jumlah partisipan yang terlalu kecil, durasi pengujian yang singkat, atau tidak adanya kelompok pembanding dapat membuat interpretasi hasil menjadi terbatas. Karena itu, dua produk yang sama-sama mengklaim clinical tested belum tentu memiliki kualitas pembuktian yang setara.
Di Uni Eropa, Commission Regulation [EU] No 655/2013 menekankan bahwa klaim kosmetik harus didukung bukti yang memadai dan tidak menyesatkan. Regulasi ini tidak melarang penggunaan istilah clinical tested, tetapi menuntut agar klaim tersebut tetap proporsional dengan data yang dimiliki brand.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam diskusi akademik menjelaskan bahwa istilah pengujian dalam kosmetik perlu dibaca bersama metodologinya. “Klaim pengujian akan lebih bermakna jika disertai konteks bagaimana produk diuji dan parameter apa yang dievaluasi,” ungkapnya.
Dari sini, terlihat bahwa istilah clinical tested bukanlah standar tunggal. Ia lebih tepat dipahami sebagai payung besar yang dapat mencakup berbagai tingkat kedalaman pengujian.
Baca Juga: Klaim Produk: Fakta atau Persepsi yang Dibentuk?
Dalam komunikasi produk, istilah ilmiah sering digunakan untuk membangun kepercayaan. Kata seperti dermatologically tested, clinically proven, atau tested by experts memberi kesan bahwa produk memiliki legitimasi yang kuat. Padahal, tanpa penjelasan tambahan, maknanya bisa sangat luas.
Sebagai contoh, klaim clinically proven sering dianggap berarti hasil produk sudah dipastikan bekerja untuk semua orang. Padahal, hasil pengujian biasanya diperoleh dalam kondisi tertentu, pada kelompok subjek tertentu, dan dalam durasi tertentu pula. Generalisasi di luar konteks ini dapat menciptakan ekspektasi yang berlebihan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap istilah ilmiah sangat dipengaruhi cara komunikasi brand. Semakin teknis istilah yang digunakan, semakin tinggi tingkat kepercayaan yang terbentuk, meskipun konsumen tidak selalu memahami detail pengujiannya.
Fenomena ini membuat bahasa ilmiah menjadi bagian dari strategi pemasaran modern. Brand tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual rasa aman dan keyakinan terhadap efektivitas. Dalam kondisi tertentu, istilah seperti clinical tested akhirnya lebih kuat sebagai alat komunikasi dibanding sebagai penjelasan ilmiah yang lengkap.
Karena itu, membaca klaim pengujian membutuhkan lebih dari sekadar melihat istilah di kemasan. Pertanyaan seperti siapa yang menguji, berapa jumlah subjeknya, berapa lama pengujiannya berlangsung, dan parameter apa yang digunakan menjadi jauh lebih penting.
Semakin berkembang industri kosmetik, semakin banyak istilah ilmiah digunakan dalam pemasaran. Di titik itu, kemampuan membedakan antara bahasa komunikasi dan kualitas pembuktian menjadi bagian penting dalam membaca sebuah produk secara lebih kritis. [][Tim Labcos/LC]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.