Ketika Angka Persentase Dipakai sebagai Alat Marketing

Ketika Angka Persentase Dipakai sebagai Alat Marketing

Angka sering terlihat objektif. Dalam industri kosmetik, persentase bahan aktif kerap digunakan untuk membangun kesan ilmiah, kuat, dan meyakinkan. Namun, apakah angka yang lebih besar selalu berarti produk yang lebih baik?

Di rak skincare, konsumen semakin sering menemukan angka sebagai bagian dari identitas produk. Ada serum dengan niacinamide 10%, 15%, bahkan 20%. Ada produk yang menonjolkan kandungan vitamin C 20%, glycolic acid 10%, atau salicylic acid 2% dalam huruf besar di bagian depan kemasan. Angka-angka ini sering jadi hal pertama yang dilihat sebelum konsumen membaca informasi lainnya.

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Angka mudah dipahami dan memberi kesan objektif. Ketika seseorang melihat produk dengan kandungan bahan aktif yang lebih tinggi, muncul asumsi bahwa produk tersebut akan bekerja lebih kuat atau lebih cepat dibanding produk dengan angka yang lebih kecil.

Padahal, dalam formulasi kosmetik, efektivitas tidak ditentukan oleh persentase saja. Stabilitas bahan, sistem penghantaran, kompatibilitas formula, kondisi kulit pengguna, hingga cara penggunaan sering memiliki pengaruh yang sama besar, bahkan lebih besar, dibanding angka yang tercetak di kemasan.

Baca Juga: Kenapa Kata ‘Hypoallergenic’ Tidak Selalu Berarti Aman untuk Semua Kulit?

Persentase Tinggi Tidak Selalu Berarti Hasil Lebih Baik

Dalam ilmu formulasi, setiap bahan aktif memiliki rentang penggunaan yang optimal. Setelah titik tertentu, peningkatan konsentrasi tidak selalu menghasilkan peningkatan manfaat yang sebanding. Dalam beberapa kasus, yang meningkat justru risiko iritasi atau ketidaknyamanan penggunaan.

Niacinamide menjadi salah satu contoh yang paling sering dibahas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat niacinamide terhadap fungsi skin barrier, pigmentasi, dan produksi sebum dapat diperoleh pada konsentrasi yang relatif moderat. Namun, dalam praktik pemasaran, angka yang lebih tinggi sering dianggap lebih menarik karena terlihat lebih ‘kuat’ di mata konsumen.

Hal serupa juga terjadi pada bahan eksfoliasi. Produk dengan AHA atau BHA berkonsentrasi tinggi memang memiliki potensi aktivitas yang lebih besar. Namun, jika formulanya tidak dirancang dengan baik atau digunakan pada kulit yang tidak sesuai, manfaat tersebut dapat diikuti peningkatan risiko iritasi.

Leslie Baumann dalam Cosmetic Dermatology: Principles and Practice menjelaskan bahwa efektivitas bahan aktif harus dibaca dalam konteks keseluruhan formula. Konsentrasi hanyalah salah satu variabel. Cara bahan tersebut distabilkan dan dihantarkan ke kulit sering kali sama pentingnya dengan angka yang tercantum pada label.

Dalam dunia farmasi dan kosmetik, dikenal konsep dose-response relationship. Hubungan antara dosis dan hasil tidak selalu berbentuk garis lurus. Ada titik di mana peningkatan dosis memberikan tambahan manfaat yang sangat kecil, sementara risiko efek yang tidak diinginkan mulai meningkat. Karena itu, formulasi yang baik tidak selalu mengejar angka tertinggi.

Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt., dalam pembahasan teknologi formulasi menekankan bahwa keberhasilan produk ditentukan oleh keseimbangan sistem. Bahan aktif perlu berada pada kadar yang relevan, tetapi juga harus stabil, aman, dan nyaman digunakan. Angka yang besar tidak otomatis menjamin semua aspek tersebut terpenuhi.

Baca Juga: Kenapa Kata 'Dermatologically Tested' Sering Disalahpahami?

Ketika Angka Menjadi Bahasa Kepercayaan

Dari sudut pemasaran, angka memiliki kekuatan komunikasi yang unik. Konsumen lebih mudah membandingkan 10% dengan 5% dibanding memahami perbedaan sistem penghantaran atau stabilitas formula. Akibatnya, persentase bahan aktif sering berubah menjadi alat diferensiasi yang sangat efektif.

Penelitian dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan bahwa informasi kuantitatif dapat meningkatkan persepsi efektivitas produk. Bahkan ketika konsumen tidak memahami seluruh aspek formulasi, angka tetap memberi kesan bahwa produk memiliki dasar yang lebih ilmiah dan terukur.

Masalahnya, angka yang berdiri sendiri sering kehilangan konteks. Dua produk dengan kandungan niacinamide yang sama belum tentu memberikan performa yang sama. Perbedaan bahan pendukung, pH formula, kemasan, dan kualitas bahan baku dapat menghasilkan pengalaman penggunaan yang sangat berbeda.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dalam konteks evaluasi kosmetik menjelaskan bahwa konsentrasi bahan aktif sebaiknya dibaca bersama tujuan formulasi. Angka memang penting, tetapi tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai kualitas produk. Formula merupakan sistem yang jauh lebih kompleks daripada sekadar daftar persentase.

Fenomena ini juga terlihat pada tren produk yang berlomba menampilkan konsentrasi bahan aktif semakin tinggi dari tahun ke tahun. Dalam beberapa kasus, persaingan tersebut lebih mencerminkan strategi komunikasi dibanding kebutuhan ilmiah yang sesungguhnya. Konsumen akhirnya terdorong membandingkan angka, sementara faktor lain yang sama pentingnya justru terabaikan.

Bukan berarti persentase bahan aktif tidak penting. Informasi tersebut tetap relevan karena membantu memahami posisi sebuah produk. Namun, angka menjadi jauh lebih bermakna ketika dibaca bersama data stabilitas, keamanan, formulasi, dan tujuan penggunaannya.

Di industri kosmetik, angka memang dapat membantu menjelaskan produk. Namun, ketika angka berubah menjadi satu-satunya bahasa yang didengar konsumen, risiko salah memahami kualitas menjadi semakin besar. Formula yang baik tidak selalu memiliki angka paling tinggi. Sering, ia adalah formula yang mampu menempatkan setiap bahan pada kadar yang tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.