Apa Arti ‘Up to’ dalam Klaim Kosmetik, dan Mengapa Konsumen Perlu Memahaminya?

Apa Arti ‘Up to’ dalam Klaim Kosmetik, dan Mengapa Konsumen Perlu Memahaminya?

Frasa up to sering menyertai angka yang mengesankan pada klaim kosmetik. Namun, “hingga 50 persen” tidak berarti setiap pengguna memperoleh peningkatan 50 persen. Maknanya harus dibaca sesuai data yang mendasari klaim tersebut.

Klaim kosmetik semakin sering menggunakan angka untuk membuat manfaat produk terasa konkret. Konsumen dapat menemukan pernyataan seperti meningkatkan hidrasi up to 50 persen, mengurangi tampilan garis halus up to 30 persen, atau mempertahankan kelembapan up to 48 jam.

Angka membuat klaim terlihat objektif. Namun, tambahan dua kata up to mengubah cara angka tersebut seharusnya dipahami. Dalam bahasa sederhana, up to berarti hingga atau sampai dengan batas tertentu, bukan hasil yang pasti diperoleh setiap pengguna.

Persoalannya menjadi penting karena konsumen cenderung lebih mudah mengingat angka terbesar dibandingkan konteks penelitian yang menghasilkannya. Jika konteks tidak disampaikan secara proporsional, klaim yang secara literal mungkin benar tetap dapat membentuk persepsi yang lebih besar daripada kemampuan produk sebenarnya.

Karena itu, pertanyaan ilmiahnya bukan hanya apakah angka tersebut pernah muncul dalam penelitian. Industri juga perlu memastikan angka itu representatif dan cara penyampaiannya tidak menyesatkan.

Baca Juga: Kapan Klaim ‘Clinically Proven’ Benar-Benar Layak Digunakan?

Angka Tertinggi Tidak Sama dengan Hasil Rata-Rata

Bayangkan sebuah produk diuji pada sekelompok partisipan dan menghasilkan peningkatan hidrasi yang berbeda-beda. Sebagian mengalami perubahan kecil, sebagian sedang, sedangkan satu atau beberapa subjek menunjukkan peningkatan hingga 50 persen.

Jika angka 50 persen merupakan hasil tertinggi, pernyataan up to 50% mempunyai konteks yang berbeda dari pernyataan “meningkatkan hidrasi sebesar 50 persen”. Pernyataan kedua dapat memberikan kesan bahwa angka tersebut merupakan hasil yang secara konsisten diperoleh dalam penelitian.

Di sinilah data pendukung harus diperiksa secara utuh. Peneliti perlu melihat jumlah subjek, nilai awal, variasi hasil, metode pengukuran, waktu evaluasi, serta analisis statistik yang digunakan. Mengambil satu nilai paling tinggi tanpa menjelaskan konteksnya dapat menghasilkan komunikasi yang kurang representatif.

Hal serupa berlaku pada klaim berbasis waktu. Pernyataan up to 48-hour hydration menunjukkan bahwa efek yang menjadi dasar klaim dapat mencapai titik waktu 48 jam sesuai kondisi pengujian. Pernyataan itu tidak otomatis berarti tingkat hidrasi berada pada nilai yang sama selama 48 jam atau setiap konsumen pasti merasakan manfaat selama durasi tersebut.

Prinsip Common Criteria for Cosmetic Claims dalam Commission Regulation [EU] No. 655/2013 menekankan bahwa klaim kosmetik harus memiliki bukti yang memadai, jujur, dan tidak menyesatkan. Presentasi bukti juga tidak semestinya membuat suatu produk terlihat memiliki manfaat yang melampaui bukti pendukungnya.

Karena itu, up to bukanlah kata yang dapat digunakan untuk membebaskan sebuah klaim dari kewajiban pembuktian. Angka yang mengikutinya tetap harus mempunyai hubungan yang jelas dengan hasil pengujian.

Baca Juga: Apa yang Harus Dibuktikan Ketika Produk Mengklaim ‘48-Hour Hydration’?

Klaim Harus Menceritakan Data Secara Proporsional

Persoalan berikutnya terletak pada bagaimana penelitian diterjemahkan menjadi komunikasi pemasaran. Satu penelitian dapat menghasilkan banyak angka, tetapi tidak semua angka memiliki bobot yang sama untuk dijadikan klaim utama.

Misalnya, nilai maksimum dapat terlihat jauh lebih menarik daripada nilai rata-rata. Namun, apabila mayoritas partisipan memperoleh hasil yang jauh di bawah nilai maksimum tersebut, menonjolkan hasil tertinggi tanpa konteks dapat membentuk ekspektasi yang tidak proporsional.

Jenis data juga harus dibedakan. Hasil pengukuran instrumental tidak sama dengan consumer perception study. Pernyataan “hidrasi meningkat hingga 40 persen berdasarkan pengukuran instrumental” berbeda dari “40 persen konsumen merasa kulitnya lebih lembap”. Keduanya dapat sah apabila didukung penelitian yang tepat, tetapi tidak boleh dipertukarkan.

Dasar klaim idealnya juga berasal dari produk akhir yang relevan. Data mengenai kemampuan satu bahan aktif tidak otomatis membuktikan bahwa produk yang mengandung bahan tersebut akan menghasilkan persentase manfaat yang sama. Konsentrasi, kombinasi bahan, sistem formulasi, dan cara penggunaan dapat memengaruhi hasil.

Bagi industri, penggunaan up to karena itu membutuhkan kehati-hatian yang sama dengan klaim numerik lainnya. Tim R&D, laboratorium pengujian, Regulatory Affairs, dan pemasaran perlu memastikan bahwa kalimat yang akhirnya dilihat konsumen masih mencerminkan apa yang benar-benar ditemukan dalam penelitian.

Bagi konsumen, dua kata kecil tersebut memberikan petunjuk penting tentang cara membaca klaim. Up to menunjukkan batas hasil yang dapat dicapai berdasarkan dasar pengujian yang digunakan, bukan janji mengenai hasil individual.

Angka besar memang mudah menarik perhatian. Namun, kualitas sebuah klaim justru terlihat dari seberapa jujur perusahaan menjelaskan arti angka tersebut. Dalam komunikasi kosmetik berbasis sains, tujuan pembuktian bukan mencari angka terbesar yang dapat dicetak pada kemasan, melainkan memastikan bahwa angka yang dipilih benar-benar menceritakan data secara proporsional. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.