Mengapa Istilah Microbiome Friendly Tidak Boleh Digunakan Sembarangan?

Mengapa Istilah Microbiome Friendly Tidak Boleh Digunakan Sembarangan?

Istilah microbiome friendly semakin sering muncul pada kemasan kosmetik. Namun, klaim ini tidak cukup didukung hanya dengan menambahkan bahan tertentu ke dalam formula. Dibutuhkan pembuktian ilmiah bahwa produk benar-benar mampu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit sesuai fungsi yang diklaim.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai mikrobioma kulit berkembang sangat pesat. Para ilmuwan semakin memahami bahwa permukaan kulit bukanlah lingkungan yang steril, melainkan dihuni oleh miliaran mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus yang hidup dalam keseimbangan alami. Komunitas mikroorganisme inilah yang dikenal sebagai skin microbiome.

Peran mikrobioma tidak dapat dianggap sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobioma berkontribusi terhadap fungsi skin barrier, respons imun, hingga kemampuan kulit mempertahankan kelembapannya. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, risiko munculnya berbagai masalah kulit dapat meningkat.

Perkembangan ilmu ini kemudian diikuti oleh tren pemasaran kosmetik. Semakin banyak produk mengklaim dirinya sebagai microbiome friendly, microbiome safe, atau bahkan mampu "menyeimbangkan mikrobioma kulit". Padahal, istilah-istilah tersebut membawa konsekuensi ilmiah yang tidak sederhana.

Karena itulah, penggunaan klaim yang berkaitan dengan mikrobioma perlu dilakukan secara hati-hati agar informasi yang diterima konsumen tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Kapan Sebuah Klaim ‘Natural’ Bisa Dipertanggungjawabkan?

Menjaga Mikrobioma Tidak Sama dengan Sekadar Mengandung Prebiotic

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa kosmetik otomatis menjadi microbiome friendly hanya karena mengandung prebiotic, postbiotic, atau bahan hasil fermentasi.

Padahal, keberadaan bahan tersebut belum membuktikan bahwa produk mampu mempertahankan keseimbangan mikrobioma kulit secara keseluruhan. Mikrobioma merupakan ekosistem yang sangat kompleks. Komposisinya berbeda pada setiap individu, dipengaruhi oleh usia, lingkungan, pola hidup, kondisi kesehatan, hingga area kulit yang diamati.

Artinya, efek suatu formula terhadap mikrobioma tidak dapat disimpulkan hanya dari karakteristik salah satu bahan aktif. Yang perlu dievaluasi adalah bagaimana keseluruhan formula berinteraksi dengan komunitas mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Reviews Microbiology menjelaskan bahwa mikrobioma kulit merupakan sistem biologis yang dinamis. Perubahan kecil pada lingkungan kulit dapat memengaruhi komposisi mikroorganisme yang ada, tetapi perubahan tersebut tidak selalu identik dengan kondisi yang lebih baik atau lebih buruk. Oleh sebab itu, interpretasi hasil penelitian mikrobioma memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati.

Dalam praktik penelitian kosmetik, evaluasi terhadap klaim microbiome friendly biasanya dilakukan menggunakan metode seperti analisis sekuensing DNA, pengamatan perubahan komposisi mikroorganisme, atau biomarker tertentu yang menunjukkan apakah keseimbangan ekosistem kulit tetap terjaga setelah penggunaan produk.

Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Apt. menjelaskan bahwa setiap klaim kosmetik yang berkaitan dengan mekanisme biologis harus didukung oleh bukti yang relevan dengan produk akhirnya. Data mengenai satu bahan aktif tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa keseluruhan formula memiliki manfaat yang sama.

Baca Juga: Mengapa Kata Anti-Pollution Perlu Dibaca dengan Hati-Hati?

Klaim Harus Mengikuti Bukti Ilmiah, Bukan Tren Pasar

Popularitas istilah microbiome friendly membuat banyak perusahaan tertarik menggunakannya sebagai bagian dari strategi komunikasi produk. Namun, dalam regulasi kosmetik modern, daya tarik sebuah istilah tidak dapat dijadikan alasan untuk menggunakannya tanpa dasar ilmiah.

Commission Regulation [EU] No. 655/2013 mengenai Common Criteria for Cosmetic Claims menegaskan bahwa seluruh klaim kosmetik harus memiliki bukti yang memadai, jujur, relevan, dan tidak menyesatkan. Prinsip yang sama juga diterapkan dalam kerangka ASEAN Cosmetic Directive, yang mengharuskan perusahaan mampu mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada konsumen.

Dalam konteks mikrobioma, tantangannya menjadi lebih besar karena hingga kini belum terdapat satu metode baku yang secara universal dapat digunakan untuk mendefinisikan kosmetik microbiome friendly. Berbagai laboratorium masih menggunakan pendekatan penelitian yang berbeda sesuai tujuan evaluasi dan karakteristik formula yang diuji.

Hal tersebut membuat perusahaan perlu berhati-hati dalam memilih kalimat pada kemasan maupun materi promosi. Mengatakan bahwa suatu produk "mengandung bahan yang mendukung keseimbangan kulit" tentu berbeda maknanya dengan menyatakan bahwa produk "terbukti menjaga mikrobioma kulit". Perbedaan satu frasa dapat membawa konsekuensi ilmiah dan regulasi yang sangat besar.

Leslie Baumann, MD, dalam Cosmetic Dermatology: Principles and Practice menjelaskan bahwa semakin spesifik suatu klaim biologis, semakin kuat pula bukti ilmiah yang harus dimiliki perusahaan. Pendekatan ini penting agar komunikasi kepada konsumen tetap sesuai dengan kemampuan nyata produk yang telah dibuktikan melalui penelitian.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa perkembangan ilmu kosmetik membuka peluang lahirnya berbagai inovasi baru, termasuk pada bidang mikrobioma. Namun, inovasi tersebut harus selalu diikuti oleh validasi ilmiah yang memadai sehingga istilah yang digunakan tidak melampaui data yang benar-benar dimiliki perusahaan.

Bagi pelaku industri, penggunaan istilah microbiome friendly seharusnya menjadi bentuk tanggung jawab ilmiah, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang berkembang. Sementara bagi konsumen, memahami makna di balik istilah tersebut membantu melihat bahwa kualitas sebuah klaim tidak ditentukan oleh seberapa modern kata yang digunakan, melainkan oleh seberapa kuat data yang mendukungnya. Di bidang kosmetik, kepercayaan yang berkelanjutan lahir ketika komunikasi produk dibangun di atas bukti ilmiah, bukan sekadar popularitas sebuah istilah. [][Tim Labcos/LC]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.