Majalah Farmasetika dan Perannya dalam Ilmu Kosmetik Indonesia

Majalah Farmasetika dan Perannya dalam Ilmu Kosmetik Indonesia

Dalam perjalanan ilmu kefarmasian Indonesia, ada satu medium yang sering menjadi jembatan antara laboratorium kampus dan dunia industri. Majalah Farmasetika bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cerminan perkembangan riset yang memberi arah bagi praktik ilmu farmasi dan kosmetik di lapangan.

Ketika seorang peneliti memikirkan bahan baru, metode formulasi, atau cara menjawab suatu kegunaan kosmetik, jawaban pertama yang sering dicari adalah: sudah ada riset apa yang membahas ini sebelumnya? Di sinilah peran jurnal ilmiah menjadi sangat penting — bukan sebagai koleksi artikel akademik semata, tetapi sebagai ruang penyimpanan kolektif pengetahuan yang dapat ditelusuri dan dibangun lagi oleh generasi peneliti berikutnya. 

Majalah Farmasetika, dengan ISSN 2686-2506, tumbuh di bawah naungan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sebagai media ilmiah yang mengakomodasi artikel penelitian, review, laporan kasus, dan komunikasi penelitian di bidang farmasetika, termasuk formulasi dan evaluasi kosmetik. 

Baca Juga: Jejak Riset Kosmetik di Fakultas Farmasi Unpad: dari Laboratorium ke Industri

Sejak volume-volume awalnya, majalah ini menjadi wadah bagi peneliti muda dan berpengalaman untuk menerbitkan hasil riset mereka. Dalam edisi terbaru saja, kita dapat menemukan artikel penelitian tentang formulasi untuk masker gel peel-off berbasis ekstrak daun teh, yang menilai stabilitas dan aktivitas anti-jerawatnya, serta eksperimen terhadap inovasi lip cream dengan ekstrak stroberi sebagai antioksidan alami — contoh nyata bagaimana penelitian kosmetik berkembang di tengah ekosistem kefarmasian Indonesia. 

Lebih dari sekadar publikasi berkala, Majalah Farmasetika juga menunjukkan bagaimana riset kosmetik terhubung dengan isu ilmiah yang lebih luas. Artikel-artikel review, seperti kajian nanoteknologi dalam kosmetik topikal atau optimasi formulasi anti-aging dari bahan alam, memberi wawasan tata cara pengembangan bahan yang lebih stabil dan efektif. 

Dalam konteks peringkat ilmiah, Majalah Farmasetika pernah memasuki daftar jurnal terakreditasi nasional SINTA 3 — sebuah pencapaian yang menunjukkan pengakuan terhadap relevansi dan kualitas kontennya di komunitas ilmiah Indonesia. 

Baca Juga: Seluk Beluk CPKB: Fondasi Mutu dan Keamanan dalam Industri Kosmetik

Peran jurnal ini bukan hanya akademik. Banyak artikel yang memberi dasar keilmuan bagi mahasiswa, dosen, hingga praktisi industri untuk menganalisa isu-isu kontemporer. Sebagai contoh, artikel mengenai formulasi dan evaluasi sediaan anti-aging dari ekstrak tumbuhan memberi insight bagaimana bahan alami dapat ditranslasikan ke dalam formulasi yang stabil dan efektif — sebuah pembelajaran langsung bagi siapapun yang tertarik mengembangkan kosmetik berbasis sains. 

Selain itu, keberadaan Majalah Farmasetika memacu kolaborasi antara akademisi dan praktisi industri. Ketika suatu penelitian dipublikasikan, bukan hanya laporan ilmiah yang dibagikan, tetapi juga standar metodologinya, pertimbangan formulasi, dan evaluasi hasil yang dapat diadaptasi untuk proses manufaktur atau uji lanjutan. Riset semacam ini menjadi sumber pengetahuan yang kemudian didialogkan dalam seminar, workshop, dan pelatihan industri. 

Pelan namun pasti, Majalah Farmasetika menjadi bagian integral dari lanskap riset kosmetik di Indonesia. Ia tak hanya membentuk basis data ilmiah, tetapi juga memperkuat budaya riset yang kritis dan kolaboratif — sebuah fondasi yang penting ketika industri kosmetik lokal terus berkembang dan menuntut kualitas yang setara standar global. [][Tim Labcos]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.