Jejak Riset Kosmetik di Fakultas Farmasi Unpad: Dari Laboratorium ke Industri

Jejak Riset Kosmetik di Fakultas Farmasi Unpad: Dari Laboratorium ke Industri

Riset dalam dunia kosmetik tidak berhenti di jurnal; ia harus relevan secara ilmiah dan punya potensi untuk diambil ke industri. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran menjadi salah satu tempat di mana kedua hal itu bertemu dalam praktik nyata.

Bagi mahasiswa farmasi hingga peneliti, perjalanan riset kosmetik adalah kisah panjang dari pertanyaan ilmiah sederhana menuju solusi yang punya dampak luas. Di Universitas Padjadjaran [Unpad], kegiatan ini tidak hanya terbatas pada teori dan publikasi ilmiah, tetapi juga diperluas melalui kolaborasi, seminar, dan komunikasi dengan pelaku industri. 

Salah satu contoh nyata riset yang telah dipublikasikan di Jurnal Universitas Padjadjaran berasal dari Apt. Cahya Khairani Kusumawulan bersama rekan-rekannya. Dalam artikel review berjudul “Efektivitas Sari Kedelai sebagai Anti-aging dalam Kosmetik”, tim peneliti tersebut mengulas secara ilmiah bagaimana kandungan bioaktif dalam sari kedelai — seperti isoflavon genistein dan daidzein — memiliki potensi sebagai bahan anti-aging dalam kosmetik karena aktivitas antioksidannya. 

Baca Juga: Sari Kedelai: Ketika Bahan Pangan Bertemu Sains Kosmetik Modern

Riset seperti ini bukan hanya sekadar rangkuman teori; ia membuka peluang eksplorasi lebih lanjut terhadap formulasi bahan alami yang relevan bagi dunia industri kosmetik. Potensi sari kedelai sebagai bahan kosmetik anti-aging terlihat dari banyaknya literatur ilmiah yang menunjukkan aktivitas antioksidan dan kemampuannya berinteraksi dengan radikal bebas yang memicu penuaan kulit. 

Di kampus, hasil riset ini turut menjadi bahan diskusi dalam seminar, kelas, dan workshop, memperkaya wawasan mahasiswa tentang strategi pengembangan bahan aktif kosmetik yang tak hanya aman tetapi juga ilmiah valid. Riset di laboratorium jadi jembatan antara kajian teori dan praktik aplikasi industri, terutama ketika tim-tim riset berkolaborasi dengan laboratorium uji, fasilitas pilot plant, atau bahkan pihak industri untuk melihat potensi hilirisasi lebih jauh. 

Universitas Padjadjaran juga secara aktif memfasilitasi dialog antara akademisi dan industri melalui berbagai kegiatan, seperti seminar “Dari Lab ke Etalase: Riset sebagai Pilar Utama Kosmetik Indonesia” yang melibatkan figur seperti Apt. Cahya Khairani Kusumawulan dalam diskusi lintas sektor, termasuk peran regulator dan perancang produk kosmetik yang siap masuk pasar.

Baca Juga: Bagaimana Laboratorium Menentukan Kosmetik Aman dari Mikroba?

Riset-riset semacam itu menunjukkan bahwa pengembangan kosmetik berbasis bahan alam tidak semata merujuk pada kandungan bahan semata, tetapi juga pada bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaatnya. Pergeseran ini penting karena konsumen kini makin kritis terhadap klaim produk dan menuntut data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ke depan, jejak riset kosmetik di Unpad diperkirakan akan makin kuat, terutama dengan adanya laboratorium uji keamanan dan mutu kosmetik di kampus yang menjadi platform riset kolaboratif antara akademisi dan pelaku industri. Infrastruktur ini akan memperluas ruang bagi penelitian bahan baru, formulasi inovatif, serta penelitian yang lebih mendalam terkait efektivitas dan keamanan kosmetik. 

Perjalanan dari laboratorium ke industri bukan hanya soal publikasi jurnal, tetapi soal bagaimana riset tersebut dapat diintegrasikan dalam proses pembuatan produk nyata yang aman, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan pengguna. Inilah wujud nyata dari tri dharma perguruan tinggi: menghasilkan ilmu yang tidak hanya dipublikasikan, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat. [][Tim Labcos]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.