Angka kecil bernama pH sering tersembunyi di balik formula kosmetik. Padahal, dari sanalah kenyamanan dan keamanan produk banyak ditentukan.
Kulit manusia memiliki pH alami yang sedikit asam, umumnya berada di kisaran 4,5 hingga 5,5. Kondisi ini membantu menjaga keseimbangan mikrobiota kulit sekaligus mempertahankan fungsi pelindung alami yang dikenal sebagai acid mantle. Ketika kosmetik yang digunakan terlalu asam atau terlalu basa, keseimbangan ini dapat terganggu.
Dalam perspektif farmasi, pH bukan sekadar angka di atas kertas spesifikasi. Ia memengaruhi stabilitas bahan aktif, efektivitas pengawet, hingga sensasi yang dirasakan pengguna saat produk diaplikasikan. Karena itu, penyesuaian pH menjadi tahap penting dalam proses formulasi.
Produk seperti facial wash, toner, serum, hingga krim pelembap memiliki kebutuhan pH yang berbeda, tergantung tujuan dan kandungan bahan aktifnya. Di sinilah peran ilmu formulasi bekerja dengan presisi.
Baca Juga: Antioksidan dalam Kosmetik: Bekerja Diam-diam Melawan Stres Oksidatif
Beberapa bahan aktif sangat sensitif terhadap perubahan pH. Vitamin C dalam bentuk asam askorbat, misalnya, bekerja optimal pada pH yang relatif rendah. Jika pH terlalu tinggi, stabilitasnya dapat menurun dan efektivitasnya berkurang. Contoh lain adalah AHA seperti glycolic acid dan lactic acid yang membutuhkan lingkungan asam agar aktivitas eksfoliasinya efektif.
Sebaliknya, bahan seperti niacinamide lebih stabil pada pH mendekati netral. Jika diformulasikan pada pH yang terlalu rendah, ia berpotensi terkonversi menjadi bentuk yang dapat meningkatkan risiko iritasi pada kulit sensitif.
Bahan pengatur pH seperti citric acid, lactic acid, sodium hydroxide, dan triethanolamine sering digunakan dalam proses penyesuaian formula. Kehadiran bahan-bahan ini bukan untuk memberi efek utama pada kulit, tetapi memastikan seluruh sistem berada pada kondisi optimal.
Baca Juga: Humektan, Emolien, Oklusif: Tiga Cara Kulit Menjaga Air
Selain memengaruhi bahan aktif, pH juga berperan dalam efektivitas sistem pengawet. Beberapa pengawet seperti phenoxyethanol atau parabens memiliki rentang pH kerja tertentu. Jika pH keluar dari rentang tersebut, kemampuan pengawet dalam menghambat pertumbuhan mikroba dapat menurun.
Dari sisi kenyamanan, produk dengan pH terlalu tinggi dapat membuat kulit terasa kering atau tertarik setelah penggunaan, seperti yang sering terjadi pada sabun konvensional berbasis alkali. Sementara itu, produk yang terlalu asam dapat menimbulkan sensasi perih, terutama pada kulit yang sedang mengalami gangguan barrier.
Karena itu, formulasi kosmetik modern berupaya mendekati pH fisiologis kulit. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan alami kulit sekaligus memastikan bahan aktif dan sistem pengawet bekerja sebagaimana mestinya.
Memahami pH berarti memahami fondasi kimia sebuah produk. Dari cairan bening dalam botol toner hingga krim lembut dalam jar, setiap formula dirancang agar berada pada titik keseimbangan yang tepat. Di situlah sains bekerja, menjaga agar kosmetik tidak hanya efektif, tetapi juga nyaman dan aman digunakan sehari-hari. [][Tim Labcos]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.