Selama bertahun-tahun, kedelai dikenal luas sebagai sumber protein nabati yang dekat dengan keseharian masyarakat Asia. Namun di balik perannya sebagai bahan pangan, kedelai menyimpan potensi lain yang kini mulai mendapat perhatian serius dalam dunia kosmetik berbasis sains.
Dalam konteks perawatan kulit, penuaan dini sering kali menjadi isu utama yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari paparan sinar ultraviolet hingga stres oksidatif. Kulit yang kehilangan elastisitas, tampak kusam, dan mudah mengalami garis halus sejatinya sedang menunjukkan ketidakseimbangan proses biologis di tingkat sel.
Pendekatan ilmiah modern tidak lagi semata-mata mencari bahan sintetis baru, tetapi juga meninjau ulang bahan alam yang telah lama dikenal. Kedelai, atau Glycine max, menjadi salah satu contoh menarik karena kandungan bioaktifnya telah banyak dikaji dalam literatur ilmiah, termasuk oleh akademisi di Indonesia.
Potensi sari kedelai sebagai bahan anti-aging dalam kosmetik telah dibahas secara komprehensif dalam sebuah artikel review berjudul “Efektivitas Sari Kedelai sebagai Anti-aging dalam Kosmetik” yang ditulis Cahya Khairani Kusumawulan, Nada Salsabila Rustiwi, Prof. Sriwidodo, dan Marline Abdassah dari Departemen Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, dan dipublikasikan di Majalah Farmasetika Volume 8 Nomor 1 tahun 2023.
Dalam kajian tersebut, para peneliti mengulas bagaimana ekstrak kedelai, baik dalam bentuk fermentasi maupun non-fermentasi, memiliki potensi sebagai bahan aktif anti-aging berkat kandungan isoflavon, flavonoid, polifenol, serta vitamin E yang menunjukkan aktivitas antioksidan, membantu memperlambat proses penuaan kulit, menjaga kelembapan, dan mendukung proses regenerasi sel kulit secara alami.
Baca Juga: Sacha Inchi: Solusi Alami untuk Wajah Awet Muda dan Bebas Kusam
Isoflavon dan Antioksidan dalam Sari Kedelai
Salah satu kekuatan utama sari kedelai terletak pada kandungan isoflavon, senyawa fitokimia yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Isoflavon bekerja dengan membantu menetralkan radikal bebas yang terbentuk akibat paparan lingkungan, sehingga mengurangi kerusakan sel kulit yang berkontribusi pada penuaan dini.
Selain isoflavon, sari kedelai juga mengandung flavonoid, polifenol, serta vitamin E yang memperkuat efek perlindungan terhadap stres oksidatif. Kombinasi ini menjadikan kedelai relevan sebagai bahan aktif yang mendukung kesehatan kulit, bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari aspek biologisnya.
Baca Juga: Uji Hedonik: Rahasia di Balik Klaim Skincare yang "Disukai 7 dari 10 Orang"
Menariknya, penelitian tentang sari kedelai tidak berhenti pada identifikasi kandungan senyawa aktif semata. Kajian tersebut juga membahas bagaimana ekstrak kedelai, baik dalam bentuk fermentasi maupun non-fermentasi, dapat diformulasikan dalam produk kosmetik dengan tujuan anti-aging.
Pendekatan ini sejalan dengan tren kosmetik modern yang menekankan efektivitas berbasis bukti ilmiah. Dengan memahami mekanisme kerja bahan aktif di tingkat sel, formulasi produk dapat dirancang untuk bekerja selaras dengan proses biologis kulit, bukan sekadar memberikan efek sementara di permukaan.
Bagi industri kosmetik, hasil kajian akademik seperti ini menjadi landasan penting dalam pengembangan produk yang aman dan dapat dipertanggungjawabkan. Sari kedelai, yang sebelumnya dikenal sebagai bahan pangan sehari-hari, kini menempati posisi baru sebagai bahan aktif potensial dalam perawatan kulit berbasis sains.
Pada akhirnya, kisah sari kedelai dalam dunia kosmetik menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi justru muncul dari pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan yang telah lama kita kenal, ketika sains dan riset membuka lapisan potensinya satu per satu. [][Tim Labcos]
Riset dan penulisan artikel ini dibantu AI, dan telah melewati kurasi Redaksi.