Istilah ini sering muncul di kemasan skincare untuk kulit berjerawat. Tetapi bagaimana sebenarnya klaim tersebut diuji dan dipastikan?
Di rak toko kosmetik, kata ‘non-comedogenic’ terdengar menenangkan. Ia memberi kesan bahwa produk tersebut tidak akan menyumbat pori dan memicu komedo. Bagi pemilik kulit berminyak atau acne-prone, klaim ini sering menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.
Secara ilmiah, komedo terbentuk ketika pori tersumbat oleh kombinasi sebum, sel kulit mati, dan faktor lain yang memicu peradangan. Karena itu, klaim non-comedogenic berkaitan erat dengan potensi suatu bahan atau formula dalam menyebabkan sumbatan tersebut. Namun, penting dipahami bahwa istilah ini bukan berarti produk mustahil menimbulkan jerawat pada semua orang.
Dalam pengembangan kosmetik, pendekatan terhadap klaim ini biasanya dimulai dari pemilihan bahan. Beberapa bahan dikenal memiliki tingkat komedogenisitas rendah, seperti glycerin, hyaluronic acid, niacinamide, dan squalene. Sebaliknya, bahan tertentu seperti isopropyl myristate atau beberapa jenis minyak dengan komposisi asam lemak tertentu pernah dilaporkan memiliki potensi komedogenik lebih tinggi pada kondisi tertentu.
Baca Juga: Hypoallergenic: Antara Sains dan Persepsi Konsumen
Secara historis, salah satu metode awal yang digunakan adalah uji pada telinga kelinci untuk melihat potensi pembentukan komedo. Namun metode ini kini banyak ditinggalkan karena perbedaan fisiologi kulit hewan dan manusia, serta pertimbangan etika penelitian.
Pendekatan yang lebih relevan adalah uji pada manusia dengan desain terkontrol. Produk diaplikasikan secara berulang pada area kulit tertentu, biasanya punggung atau wajah, selama beberapa minggu. Evaluasi dilakukan oleh dermatolog atau peneliti terlatih untuk menilai apakah terjadi peningkatan jumlah mikrokomedo dibandingkan sebelum penggunaan.
Dalam beberapa protokol, digunakan teknik seperti pengambilan sampel permukaan kulit atau pencitraan kulit untuk membantu observasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat apakah perubahan yang terjadi signifikan atau tidak.
Baca Juga: Natural vs Synthetic: Klaim yang Sering Disalahpahami
Perlu diingat bahwa komedogenisitas tak hanya ditentukan oleh satu bahan, tetapi oleh keseluruhan sistem formula. Konsentrasi, kombinasi bahan, serta tipe kulit pengguna turut memengaruhi hasil akhir. Sebuah bahan yang berpotensi komedogenik dalam konsentrasi tinggi belum tentu menimbulkan masalah dalam kadar rendah dan formulasi seimbang.
Selain itu, respons kulit bersifat individual. Faktor hormon, kebersihan kulit, rutinitas skincare lain, hingga kondisi lingkungan dapat memengaruhi munculnya komedo. Karena itu, klaim non-comedogenic sebaiknya dipahami sebagai hasil pengujian dalam kondisi tertentu, bukan jaminan absolut untuk semua orang.
Bagi industri, klaim ini memerlukan dasar data yang jelas dan terdokumentasi. Pengujian harus dilakukan dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, dan hasilnya disimpan sebagai bagian dari dokumen klaim produk. Dengan demikian, istilah non-comedogenic bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi pernyataan yang memiliki landasan ilmiah. [][Tim Labcos]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.