Natural vs Synthetic: Klaim yang Sering Disalahpahami

Natural vs Synthetic: Klaim yang Sering Disalahpahami

Label 'natural' sering terdengar lebih aman dan lebih ramah bagi kulit. Sebaliknya, kata 'synthetic' kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang keras dan berisiko.

Dalam praktiknya, pembagian ini tidak sesederhana hitam dan putih. Dunia kosmetik bekerja dengan pendekatan ilmiah, bukan sekadar persepsi. Klaim natural maupun synthetic perlu dipahami dari sudut pandang kimia, keamanan, dan tujuan formulasi.

Sebagai mahasiswa farmasi atau praktisi yang akrab dengan bahan aktif, kita belajar bahwa asal suatu bahan tidak otomatis menentukan tingkat keamanannya. Yang lebih menentukan justru struktur molekulnya, kemurniannya, dosisnya, serta bagaimana ia diformulasikan.

Banyak bahan yang disebut 'natural' tetap melalui proses ekstraksi, pemurnian, bahkan modifikasi. Sementara bahan 'synthetic' sering kali dirancang untuk meniru struktur yang juga ditemukan di alam.

Baca Juga: “Dermatologically Tested”: Apa yang Sebenarnya Diuji?

Natural Tidak Selalu Lebih Aman

Bahan alami seperti minyak esensial, ekstrak tumbuhan, atau resin memang memiliki daya tarik tersendiri. Mereka membawa narasi kedekatan dengan alam dan tradisi. Namun, dari perspektif ilmiah, bahan alami tetap mengandung senyawa kimia aktif yang bisa memicu iritasi atau alergi pada sebagian individu.

Contohnya, beberapa minyak atsiri mengandung komponen volatil yang sensitif terhadap oksidasi. Ketika teroksidasi, potensi iritasinya justru meningkat. Artinya, meskipun berasal dari tumbuhan, bahan tersebut tetap memerlukan uji keamanan dan kontrol mutu yang ketat.

Selain itu, konsistensi bahan alami bisa menjadi tantangan. Variasi musim, lokasi tanam, dan metode ekstraksi dapat memengaruhi komposisi kimianya. Inilah alasan mengapa standarisasi dan pengujian tetap dibutuhkan, bahkan untuk bahan yang berlabel natural.

Baca Juga: Humektan, Emolien, Oklusif: Tiga Cara Kulit Menjaga Air

Synthetic Tidak Identik dengan Berbahaya

Istilah synthetic pada dasarnya berarti bahan tersebut dibuat melalui proses sintesis kimia terkontrol. Banyak bahan sintetis dikembangkan justru untuk meningkatkan stabilitas, kemurnian, dan konsistensi dibandingkan versi alaminya.

Sebagai contoh, beberapa antioksidan, emolien, atau humektan sintetis dirancang agar memiliki struktur molekul yang stabil dan risiko iritasi yang lebih rendah. Karena diproduksi dalam kondisi terstandar, variasinya dapat dikendalikan dengan lebih baik.

Dari sisi keamanan, bahan sintetis juga melalui rangkaian uji toksikologi dan evaluasi regulatori sebelum digunakan dalam kosmetik. Artinya, klaim synthetic tidak bisa serta-merta diartikan sebagai kurang aman.

Dalam dunia formulasi, pilihan antara natural dan synthetic sering kali bukan soal mana yang lebih baik, melainkan mana yang paling sesuai untuk tujuan produk tersebut. Ada formula yang mengandalkan ekstrak tumbuhan, ada pula yang memanfaatkan molekul hasil sintesis untuk stabilitas dan efektivitas yang lebih terukur.

Ketika membaca label kosmetik, penting untuk melihat lebih jauh dari sekadar istilah. Keamanan produk ditentukan oleh bukti ilmiah, pengujian, dan kepatuhan terhadap regulasi, bukan hanya oleh asal-usul bahan. Pendekatan inilah yang membuat klaim menjadi lebih jernih, dan konsumen bisa mengambil keputusan dengan lebih rasional. [][Tim Labcos]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.