Tidak semua angka bisa menjelaskan rasa suka. Kadang, keputusan akhir ada di tangan indera manusia.
Dalam laboratorium kosmetik, banyak hal dapat diukur secara objektif. Viskositas bisa diuji dengan viskometer, pH bisa dibaca lewat elektroda, stabilitas warna bisa diamati melalui penyimpanan dipercepat. Namun ada satu aspek yang tidak bisa sepenuhnya ditentukan oleh alat: apakah produk itu disukai.
Di sinilah uji hedonik mengambil peran. Ia menjadi jembatan antara data ilmiah dan pengalaman pengguna. Sebuah formula mungkin stabil, aman, dan sesuai regulasi, tetapi jika teksturnya terasa lengket atau aromanya mengganggu, konsumen bisa saja menolaknya.
Uji hedonik pada dasarnya adalah metode penilaian berbasis preferensi. Panelis diminta memberikan respons terhadap atribut tertentu seperti warna, aroma, tekstur, daya sebar, rasa di kulit, hingga kesan keseluruhan. Penilaian ini biasanya menggunakan skala numerik, misalnya dari sangat tidak suka hingga sangat suka.
Baca Juga: Uji Cemaran Logam Berat: Dari Sampel hingga Angka
Dalam praktiknya, uji hedonik dilakukan dengan melibatkan sejumlah panelis yang merepresentasikan target pengguna. Mereka tidak harus ahli, justru seringkali dipilih dari kelompok konsumen awam agar hasilnya mencerminkan persepsi pasar yang sebenarnya.
Sebelum pengujian dimulai, panelis biasanya diberikan instruksi yang jelas dan kondisi ruangan dikontrol agar tidak memengaruhi persepsi, misalnya pencahayaan yang netral dan suhu ruangan yang stabil. Setiap panelis menilai sampel secara individual untuk meminimalkan bias sosial.
Hasil penilaian kemudian dikumpulkan dan dianalisis secara statistik. Rata rata skor dihitung, distribusi data diamati, dan bila perlu dilakukan uji statistik untuk melihat apakah perbedaan antar formula memang signifikan. Di sinilah preferensi yang tampak subjektif mulai diterjemahkan menjadi angka yang bisa dibandingkan.
Baca Juga: Uji Stabilitas: Mengapa Kosmetik Bisa Berubah Warna dan Aroma?
Kosmetik bukan sekadar produk fungsional. Ia bersentuhan dengan identitas, kenyamanan, dan kepercayaan diri. Karena itu, aspek sensorik memiliki bobot yang hampir sama pentingnya dengan keamanan dan efektivitas.
Bayangkan dua pelembap dengan kandungan aktif yang setara. Yang satu terasa ringan dan cepat menyerap, yang lain meninggalkan rasa berminyak. Secara farmasetis keduanya mungkin sama sama baik, tetapi hasil uji hedonik dapat menunjukkan mana yang lebih berpotensi diterima pasar.
Bagi tim formulasi, data uji hedonik menjadi dasar untuk penyempurnaan produk. Aroma bisa disesuaikan, tekstur diperbaiki, atau tingkat kekentalan dioptimalkan. Dengan begitu, pengembangan tak hanya berbasis asumsi, melainkan respons nyata dari calon pengguna.
Uji hedonik mengingatkan bahwa sains kosmetik tidak berhenti pada stabilitas dan keamanan. Ia berlanjut pada pengalaman. Di titik inilah laboratorium bertemu manusia, dan angka bertemu rasa suka. [][Tim Labcos]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.