Setiap kosmetik yang beredar di Indonesia wajib memiliki nomor notifikasi. Di balik nomor tersebut, ada proses administratif dan teknis yang harus dipenuhi secara cermat.
Bagi pelaku usaha kosmetik, notifikasi ke BPOM bukan sekadar formalitas sebelum produk dipasarkan. Ia merupakan mekanisme pengawasan berbasis kepatuhan yang memastikan komposisi, klaim, dan informasi pada label telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sistem ini dirancang agar produk yang sampai ke konsumen telah melalui evaluasi administratif dan verifikasi kesesuaian bahan.
Proses notifikasi dimulai bahkan sebelum pengajuan dilakukan. Pada tahap pengembangan, formula harus ditinjau terlebih dahulu untuk memastikan tidak mengandung bahan yang dilarang serta tidak melebihi batas maksimum bahan yang dibatasi penggunaannya. Nama bahan harus dituliskan sesuai nomenklatur yang diakui, umumnya mengacu kepada INCI [International Nomenclature of Cosmetic Ingredients].
Selain komposisi, aspek klaim juga perlu diperhatikan sejak awal. Klaim manfaat harus sejalan dengan fungsi kosmetik dan tidak boleh menyerempet klaim terapeutik yang menjadi ranah obat. Di sinilah tim regulatori dan tim formulasi biasanya bekerja berdampingan.
Baca Juga: Perbedaan Skala Produksi dan Dampaknya pada Sistem Mutu
Notifikasi kosmetik dilakukan melalui sistem elektronik yang disediakan oleh BPOM. Pelaku usaha harus terlebih dahulu memiliki akun dan memenuhi persyaratan legalitas perusahaan, termasuk Nomor Induk Berusaha serta izin usaha yang relevan.
Setelah itu, data produk diinput secara rinci. Informasi yang dimasukkan meliputi nama produk, bentuk sediaan, komposisi lengkap beserta kadar, data pabrik atau perusahaan maklon, serta rancangan label. Setiap entri harus konsisten, karena ketidaksesuaian kecil sekalipun dapat menyebabkan permintaan perbaikan.
Sistem kemudian akan memverifikasi kesesuaian bahan terhadap daftar regulasi yang berlaku. Jika tidak ditemukan pelanggaran dan seluruh dokumen dinyatakan lengkap, nomor notifikasi akan diterbitkan. Nomor ini wajib dicantumkan pada kemasan sebelum produk diedarkan.
Baca Juga: Dokumentasi Produksi: Mengapa Catatan Lebih Penting dari Ingatan?
Beberapa dokumen kunci yang umumnya diperlukan antara lain data komposisi lengkap dengan fungsi masing masing bahan, spesifikasi mutu produk jadi, contoh desain label, serta dokumen kerja sama jika produksi dilakukan melalui pihak ketiga.
Untuk perusahaan manufaktur, kepemilikan sertifikat Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik juga menjadi bagian penting dalam sistem kepatuhan. Sementara bagi importir, diperlukan dokumen penunjukan dari prinsipal dan data produk dari negara asal.
Perlu dipahami bahwa penerbitan nomor notifikasi bukan akhir dari kewajiban. Perusahaan tetap bertanggung jawab memastikan bahwa setiap batch yang diproduksi sesuai dengan formula yang telah didaftarkan. Jika terjadi perubahan signifikan pada komposisi atau klaim, pembaruan notifikasi dapat diperlukan.
Memahami alur dan dokumen notifikasi membantu pelaku usaha melihat proses ini sebagai bagian dari sistem mutu, bukan sekadar administrasi. Ketelitian dalam tahap awal akan meminimalkan kendala saat evaluasi, sekaligus memperkuat fondasi kepatuhan produk di pasar. [][Tim Labcos]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.